Tinjauan Pedagogik Pengaruh Faktor Kecerdasan, Kreativitasdan Potensi Diri terhadap Keberhasilan dalam Memimpin

Tinjauan Pedagogik Pengaruh Faktor Kecerdasan, Kreativitas

dan Potensi Diri terhadap Keberhasilan dalam Memimpin

Oleh : Nyoman Dantes

  1. Pendahuluan

Ciri utama abad milinium ini adalah terjadinya globalisasi pada setiap aspek kehidupan. Kita hidup pada masa berlangsungnya banyak perubahan yang mempercepat globalisasi, informasi yang kian menggunung, dominasi sains dan teknologi yang terus bertumbuh, dan benturan berbagai kultur. Globalisasi mengandung arti terjadinya keterbukaan, kesejagatan, dimana batas-batas negara tidak lagi menjadi penting. Dalam kaitan dengan itu, terjadi kehidupan yang penuh dengan persaingan karena dunia telah menjadi sangat kompetitif. Salah satu yang menjadi trend dan merupakan ciri globalisasi adalah adanya keterbukaan, jaminan mutu dan persamaan hak. Dalam konteks kepemimpinan, hal itu tentunya berarti dimensi penghargaan, pengakuan dan keadilan pada setiap individu berhak mendapat prioritas yang setinggi-tingginya tanpa memandang bangsa, ras, latar belakang ekonomi, maupun jenis kelamin. Kepemimpinan yang dapat memberikan kenyamanan, perasaan aman, kesejahtraan moriil dan materiil akan berdampak langsung pada kesejahtraan hidupnya. Hal tersebut merupakan dimensi aksiologi kepemimpinan. Maka dari itu diperlukan dasar pemahaman yang kuat dan dasar yang kokoh bagi pemimpin atas nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sentuhan dengan pendekatan kemanusiaan akan dapat merupakan wahana transpormasi budaya, dan proses itu sendiri adalah budaya intingeble,merupakan social culture, dan juga merupakan dan mendukung culture system. Dalam kaitannya dengan itu pemimpin dituntut berperan sebagai agen pengembang dan pembentuk budaya kerja organisasi.

Bila kita analisis pengalaman sejarah bangsa kita, pasang surutnya perkembangan bangsa kita, diperlukan usaha yang sangat serius untuk menata kehidupan bangsa dalam berbagai aspek. Menata kehidupan bangsa dalam berbagai aspeknya termasuk pendidikan adalah hal yang sangat mendesak untuk dilakukan, walaupun hal itu diketahui sulit. Pada hakekatnya proses penataan kembali itu diperlukan, karena hadirnya sejumlah perubahan, yang beberapa diantaranya sangat fundamental dan tidak pernah diramalkan sebelumnya. Dunia bergerak ke masa depan dengan dinamis, dan dalam proses itu banyak nilai masa lalu yang tidak tepat lagi dengan konteks perkembangan jaman. Hal ini disebabkan karena memang perubahan perkembangan masyarakat; dari masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan, dari masyarakat agraris ke masyarakat industri dan jasa, dari tipologi masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, juga berkembang dari masyarakat paternalistik ke masyarakat demokratis. Hal ini dapat menyebabkan sebagian masyarakat mengalami disorientasi nilai. Dalam tingkat tertentu hal tersebut juga mempengaruhi dunia pendidikan kita.

Sebagai masyarakat yang sebagian besar cenderung dalam tipologi tradisional, terkait dengan perubahan jaman tersebut, untuk bisa hidup harmonis dan bahagia dalam lingkungan dunia baru (global) ini, diperlukan hadirnya Neotradisional Norm yaitu nilai-nilai baru yang berakar pada nilai-nilai tradisional (asli) dan dalam perkembangan dan perubahan nilai dapat disebut dengan dynamic integrated norm yaitu suatu perubahan nilai yang dianut masyarakat tetapi masih bersumber dan terintegrasi dengan nilai aslinya yang bisa berupa nilai-nilai luhur bangsa yang merupakan puncak-puncak nilai bangsa, maupun berupa nilai yang bersumber dari kearifan lokal (local geneus). Semua ini mewarnai perilaku kehidupan masyarakat dan ini juga mewarnai perilaku mereka dalam melakukan kegiatan-kegiatan profesional maupun dalam dunia kerja industri. Pola-pola manajemen (pengelolaan) sumber daya pun harus dapat mengantisipasi hal tersebut.

Bila kita kaji beberapa referensi dalam kaitan dengan hal di atas, tampak jelas penggambaran adanya perubahan zaman yang sangat pesat. Seperti Nisbet (1997) telah menyodorkan sepuluh megatrent global yang akan terjadi ke depan yang terkenal dengan megatrent global melenium yang meliputi boom ekonomi global, renaisan dalam seni, sosialisme pasar bebas, gaya hidup global dan nasionalisme kultural, swastanisasi, kebangkitan tepi pasifik, dasawarsa kepemimpinan wanita, abad biologi, kebangkitan agama milinium, dan kejayaan individu, dan ini akan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam berinteraksi, yang pada gilirannya akan mewarnai bagaimana pola kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang manager untuk mengelola para sumber daya yang dipimpin.. Sedangkan Rowan Gibson (1997) menyatakan tiga hal sehubungan dengan kehidupan ke depan yaitu : pertama, the road stop here ; yang esensinya menyatakan bahwa masa depan nanti akan sangat berbeda dari masa lalu, dan karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu. Kedua, new time call for new organizations, yang pada esensinya menyatakan bahwa dengan tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi/ institusi yang berbeda dan kepemimpinan yang berbeda dengan ciri efisiensi yang tinggi, dan kecepatan bergerak. Ketiga, where do we go next; yang esensinya menyatakan bahwa, dengan berbagai perubahan yang terjadi, setiap organisasi, institusi, pemimpin, perlu merumuskan arah yang tepat yang ingin dituju. Peter Senge (2004) juga mengemukakan bahwa akan terjadi ke depan ini perubahan dari detail comlplexety ke dinamic complexity yang nantinya akan membuat interpolasi menjadi sulit. Perubahan terjadi akan sangat mendadak dan tidak menentu. Sedangkan Rossabeth Moss Kanter (1994) menyatakan masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran cosmopolitan dan setiap pelakunya disetiap bidang termasuk bidang pendidikan dan kepemimpinan dalam pendidikan dituntut memiliki 4C yaitu : Concept, Competence, Conection, dan Confidance. Maka dari itu kedepan diperlukan pendidikan yang, di samping menguasai sains dan teknologi yang tinggi, harus didasarkan pada dasar pemahaman dan penguasaan nilai dan moral kemanusiaan yang kokoh. Maka dari itu kepemimpinan yang diharapkan diterapkan dalam perubahan jaman yang begitu cepat adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan inner power yang dimiliki oleh sumber daya yang dipimpin antara lain yaitu faktor kecerdasan, kreativitas, pengelolaan diri, dan faktor-faktor aktivitas kepemimpinan.

  1. Faktor Kecerdasan

Kecerdasan pada hakikatnya merupakan potensi dasar yang dimiliki manusia, sehingga kecerdasan merupakan faktor internal yang dimiliki manusia yang akan mempengaruhi berbagai keputusan kognitif maupun nonkognitif yang diambil seseorang. Bersamaan dengan pesatnya perkembangan ilmu psikologis saat ini, penelitian-penelitian dan pengembangan teoretik mengenai kecerdasan makin bervariasi. Asumsi-asumsi hipotetik tentang kecerdasan pun makin berkembang pula. Semenjak dikemukakannya asumsi teoretik tentang kecerdasan mutiple oleh Gardner, muncul asumsi teoretik tentang berbagai kecerdasan seperti, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial, kecerdasan relegius muncul mengiringi konsep teoretik tentang kecerdasan inteligen yang telah lama menguasai konsep kecerdasan yang meyakini bahwa sangat signifikan pengaruhnya terhadap perilaku-perilaku kognitif maupun kognitif seseorang.

Dengan berbasis studi yang dilakukan oleh para psikologi dan ahli pendidikan menemukan kecerdasan inteligen (IQ), berpengaruh secara signifikan sebesar antara 16-24 % terhadap keberhasilan seseorang yang terkait dengan perilaku kognitif (akademik). Ini artinya makin tinggi inteligensi seseorang akan makin besar pengaruhnya terhadap kesuksesan menempuh pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan akademik. Dalam kaitannya dengan tugas-tugas seseorang pimpinan khususnya dalam lembaga-lembaga formal faktor inteligensi ini pasti berpangaruh secara signifikan. Seseorang pimpinan tidak boleh lebih bego dari yang dipimpin, karena hal ini menyangkut otorita personal seseorang ynag dapat mempengaruhi persepsi bagi yang dipimpin. Studi lain yang menarik tentang inteligensi ini adalah terbentuknya kualitas inteligensi itu dipengaruhi oleh minimal tiga faktor yaitu, genetis, pengalaman menantang, dan gizi. Genetis adalah terkait dengan faktor keturunan dari pasangan suami istri, yang diyakini mengikuti hukum variasi heriditer. Sedangkan pengalaman menantang dimaksudkan adalah pengalaman-pengalaman masa kecil (0-5 tahun untuk tahap pertama; dan sampai 16 tahun untuk tahap kedua) yang dialami seseorang yang signifikan membentuk pertumbuhan sel-sel pada otak kecil; serta gizi sudah jelas satu hal yang memberi dukungan pertumbuhan biologis tersebut.

Dengan munculnya berbagai kenyataan di lapangan bahwa seseorang memiliki keunggulan di bidang kecerdasan yang berbeda, terus muncul teori mutiple inteligensi dari Gardner, yang meyakini bahwa terdapat berbagai kecerdasan yang terdiri dari aspek arithmetik, bahasa, kenestitik dan sebagainya. Sudah tentunya hal ini akan sangat berguna dan berhasil guna bagi semua orang bila seseorang diberikan tugas sesuai dengan aspek kecerdasannya.

Selanjutnya dengan diyakininya teori tentang belahan otak kiri (yang menyangkut memori tentang kecerdasan kognitif) dan belahan otak kanan yang menyimpan tentang kecerdasan emosional, nilai etika dsb), muncul studi-studi tentang kecerdasan emosional, spiritual, relegius dan sebagainya. Malah kecerdasan-kecerdasan ini sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang dalam mengelola pekerjaan-pekerjaan yang mengkoordinasikan berbagai interaksi SDM. Kecerdasan ini diperkirakan berpengaruh sukses sekitar 60 % bagi seseorang dalam menangani pekerjaan-pekerjaan akademik. Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan bagi seseorang pemimpin sangatlah perlu adanya.


  1. Faktor Kreativitas

Kreativitas merupakan realisasi dari akumulasi proses psikis, eksperience science, dan teknology. Berkembangnya suatu kreativitas adalah untuk mencari berbagai kemudahan dalam hidup dan kehidupan di samping sifat explorer dari karakteristik manusia. Kreativitas sangat penting, tidak hanya bagi kehidupan modern akan tetapi berlaku dalam setiap kehidupan yang memiliki kemauan dan upaya untuk mengembangkan diri. Supaya timbul kemauan dan upaya pengembangan diri, seseorang memerlukan dorongan, pemikiran dan prilaku yang kreatif.

Rhodes membedakan kreativitas ke dalam dimensi person, process, product, dan press, (dalam Supriadi, 1994:7). Definisi kreativitas yang menekankan pada dimensi persons, sejalan dengan ungkapan Guilford yang menyatakan bahwa “Creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people” (Supriadi, 1994:7). Definisi yang menekankan segi proses, yang dikemukakan oleh Munandar (1977:25) sebagai berikut, “Creativity is a process that manifest itself in fluency, in flexibility aqs well in originalty of thinking”. Disisi lain Hurlock (1978:68) mengungkapkan bahwa kreativitas bukanlah hasil (produk), akan tetapi merupakan proses yang mempunyai tujuan, mendatangkan keuntungan baik bagi individu yang bersangkutan maupun kelompok sosialnya, mengarah kepenciptaan yang baru, berbeda dan unik, dapat berupa bentuk imajinasi yang dikendalikan menjurus kebeberapa bentuk imajinasi yang dikendalikan ke beberapa bentuk prestasi, serta merupakan suatu cara berpikir. Karena kreativitas timbul dari pemikiran divergen. Namun kemampuan mencipta tergantung pula pada perolehan pengetahuan yang diterima. Menurut Semiawan, dkk (1997:52) kreativitas sebagai peroses merupakan hal yang lebih essensial dan perlu ditanamkan pada individu sejak dini dengan menyibukkan diri dengan cara kreatif. Misalnya dalam proses bermain, dengan adanya gagasan atau unsur-unsur pikiran, akan menjadi keasikan yang menyenangkan dan penuh tantangan bagi individu yang kreatif. Dengan kata lain, kreativitas dalam hal ini merupakan proses berpikir yang mengarah kepada suatu usaha untuk menemukan hubungan baru, mendapatkan jawaban, metode atau cara baru dalam memecahkan masalah. Memiliki individu-individu kreatif atau memimpin individu-individu kreatif dengan kepemimpinan yang humanistik akan memacu produktivitas baik secara kualitas maupun kuantitas. Atau, dari sisi manajer, memiliki manajer yang kreatif akan dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk mencapai hasil yang optimal.

Ditinjau dari segi produk, kreativitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, yang pada umumnya bersifat original atau unik. Secara lebih rinci Munandar (1992:46), menjelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada sehingga menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah dengan menekankan pada kuantitas, ketepat-gunaan, dan keragaman jawaban. Kreativitas yang dimaksud adalah kreatif dan konvergen. Kreativitas adalah karya yang merupakan hasil dari pemikiran dan gagasan. Ada rangkaian proses yang panjang dan harus digarap terlebih dahulu sebelum suatu gagasan menjadi suatu karya. Rangkaian tersebut antara lain meliputi fiksasi (pengikatan dan pemantapan) dan formula gagasan, penyusunan rencana, program dan tindakan, dan akhirnya tindakan nyata yang harus dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun untuk mewujudkan gagasan tersebut (Soesarsono Wyandi, 1988:60).

Dimensi press (tekanan/dorongan) adalah kondisi yang dapat mendorong atau menghambat seseorang untuk bertindak kreatif. Dorongan atau hambatan tersebut dapat berasal dari luar, yaitu lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat, maupun dari dalam individu itu sendiri. Jika kedua kondisi ini menguntungkan atau menunjang yakni adanya dari seseorang (individu) untuk melibatkan diri secara kreatif, dan ia mendapatkan kesempatan maka lebih menguntungkan individu tersebut bertindak secara kreatif.

Definisi lain mengenai kreativitas, diungkapkan oleh Amien (1980), yang mengatakan bahwa kreativitas merupakan pola berpikir atau ide yang spontan atau imajinatif yang mencirikan hasil artistik, penemuan-penemuan alamiah, dan penciptaan-penciptaan secara mekanik. Labih lanjut dijelaskan bahwa kreativitas meliputi sesuatu yang baru atau sama sekali baru bagi dunia ilmiah atau relatif baru bagi individunya. Dari segi sifat, para individu kreatif umunya bersifat merangsang diri sendiri, bebas, sensitif, berorientasi kepada sasaran dan mampu menggerakkan upaya mereka sendiri. Mereka juga bebas terbuka dan fleksibel secara emosional dibandingkan dengan orang-orang yang kurang kreatif. Pemikiran bertingkat ganda mereka dapat bersifat pada kesegaran dan kecendrungan yang kuat untuk melihat rimba tetapi bukan setiap pohon (Dale Timpe, 1982:24).

Dengan demikian dapat dilihat bahwa kreativitas mengandung arti dan mempunyai tahapan yang diawali dengan suatu pemikiran atau ide yang kreatif, kemudian melakukan kegiatan kreatif sehingga tercipta hasil kreatif. Jadi kreativitas merupakan kamampuan seseorang melahirkan sesuatu yang baru, dan bahkan menciptakan situasi yang baru, yang dapat diduga berpengaruh pada situasi lingkungan (yang dalam hal ini dapat berarti lingkungan kerja).

Dalam kaitan dengan itu, ciri-ciri kreativitas pada umumnya dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan kemampuan kreatif dari seseorang. Manurut Guilford (dalam Dedi Supriadi, 1994:55) ciri-ciri kreativitas seseorang dapat dilihat dari aspek berpikir, dan aspek dorongan atau motivasi. Aspek berpikir kreatif ditunjukkan oleh sifat-sifat kelancaran (fluency), kelenturan (flexcibility), keaslian (originality), dan penguraian (elaboration). Aspek dorongan atau motivasi ditunjukkan oleh sifat-sifat karakter, seperti percaya diri, tidak konvensional, dan aspirasi keindahan. Terkait dengan hal ini, Baban Sarbana dan Dina Diana (2002:69) mengemukakan, menjadi kreatif adalah melihat hal yang sama seperti orang lain, tetapi berpikir tentang sesuatu yang berbeda dan menjadi kreatif adalah membawa kepada suatu yang baru sebelumnya tidak ada.

Kelancaran (fluency), adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. Ciri-cirinya antara lain: (1) Word fluency, yakni kemampuan untuk menghasilkan kata-kata yang dalam kaitan ini dimaksudkan seseorang yang dapat menhasilkan (menggunakan kalimat/kata-kata) yang bermakna dan lancar dalam berkomunikasi. Seorang pemimpin yang dapat memilih dan menggunakan kalimat (kata-kata) yang tepat dalam berinteraksi dengan yang dipimpin akan dapat menghasilkan produk yang diharapkan secara optimal, (2) Associational fluency, yaitu kemampuan untuk menghasilkan sejumlah kata-kata yang mengandung beberapa macam hubungan, dapat terbentuk sebuah ide, pemberian judul atau memberikan arti yang serupa. Selain itu dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir secara analog atau kebalikannya. (3) Expressional fluency, adalah kemapuan untuk menyusun kata-kata terorganisasi, seperti dalam bentuk ungkapan-ungkapan atau kalimat-kalimat. Dengan kata lain merupakan kelancaran dalam mengekpresikan pikiran-pikiran, ide-ide atau pemecahan masalah dalam bentuk kata-kata atau kalimat. (4) Ideational fluency, merupakan kemampuan untuk menghasilkan sejumlah ide-ide dengan cepat yang sesuai dengan kegunaan yang diminta. Beberapa jenis tes mengenai ideational fluency, kecepatan lebih penting dari kualitas. Ide yang dihasilkan dapat berbentuk simpel atau kompleks, dapat berupa pemberian judul baik untuk gambar maupun cerita, atau dapat pula berupa ungkapan-ungkapan dalam kalimat pendek yang merupakan kesatuan hasil pemikiran.        Kelenturan (flexibility) yaitu kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendakatan terhadap masalah. Hal-hal yang termasuk dalam ciri-ciri ini adalah: (1) Spontaneous flexibility yakni kemampuan atau kecenderungan untuk menghasilkan bermacam-macam variasi dari ide-ide yang bebas dari hambatan atau keterpaksaan. Spontaneous flexibility dapat dikatakan pula sebagai keluwesan dalam mengadakan pendekatan terhadap masalah. Artinya, bila melalui pendekatan yang satu tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, maka dengan segera akan menggantikannya dengan cara pendekatan yang lain. Seseorang yang memiliki kemampuan Spontaneous flexibility rendah, akan terlihat kaku dalam memberikan ide atau pendapatnya. Ia akan cenderung untuk bertahan pada satu atau beberapa pada pemikiran yang sempit saja. Namun demikian orang tersebut masih mempunyai kemungkinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi meskipun tidak melakukannya secara spontan. (2) Adaptive
flexibility, merupakan penyesuaian yang fleksibel dalam menghadapi masalah sampai diperoleh hasil pemecahannya. Mengenai hal ini, seseorang akan gagal untuk menyelesaikan masalah bila ia tidak mampu untuk bertindak fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan masalah yang sedang dihadapi.

Orisinalitas adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli dan tidak klise. Dapat pula diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang luar biasa, jarang ditemui dan unik. Seseorang dikatakan memiliki gagasan yang orisinal apabila ia memilki gagasan-gagasan yang tidak pernah dimiliki orang lain. Gagasan-gagasan itu punya kelas tersendiri dan orang yang punya gagasan semacam itu harus mempercayai dirinya dan gagasannya. Orang yang mampu melahirkan permikiran-pemikiran orisinal harus memiliki rasa percaya diri yang kuat (dan tetap rendah hati) karena mereka cenderung untuk berpikir yang berlawanan dengan pikiran-pikiran yang konvensional. Akibatnya gagasan mereka lebih besar kemungkinannya untuk menerima komentar negatif bertubi-tubi. Terkait dengan hal ini Willams (dalam Utami Munandar, 1992:89), mengemukakan tentang prilaku yang didasarkan pada berfikir orisinal seperti: memikirkan masalah-masalah atau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain, mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha untuk memikirkan cara-cara yang baru, memilih asimetri dalam menggambarkan atau membuat desain, memiliki cara berpikir yang lain dari yang lain dan mencari pendekatan yang baru dari yang stereotif.

Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu yang terinci, yakni merupakan kreativitas untuk merangkai sebuah ide atau jawaban-jawaban simpel agar menjadi lebih mendetail. Elaborasi ini dapat dikembangkan dengan cara memberi latihan kepada subyek untuk memberikan informasi tambahan, atau komunikasi verbal.

Williams (dalam Utami Munandar, 1992:90), mengemukakan kemampuan mengelaborasi sebagai berikut: (a) mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk, (b) menambahkan atau merinci detil-detil dari suatu obyek, gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik. Selanjutnya dikemukakan bahwa prilaku subyek yang mempunyai ketrampilan mengelaborasi sebagai berikut: (a) mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci, (b) mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain, (c) mencoba atau menguji detil-detil untuk melihat arah yang ditempuh, (d) mempunyai rasa keindahan yang kuat sehingga tidak puas dengan penampilan yang kosong atau sederhana.

Berdasarkan analisis Guilford (dalam Tedjasutisna, 1999:26) menyebutkan ada lima faktor sifat yang menjadikan ciri kemampuan berpikir kreatif yaitu: (1) Kelancaran (fluency) adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan, (2) keluwesan (fleksibility) adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan masalah, (3) keaslian (originality) adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara asli, (4) penguraian (elaborastion) merupakan kemampuan untuk menguraikan suatu secara lebih rinci, (5) redefinition adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh orang banyak.

Pakar lain yakni Moore menyebutkan empat macam ciri utama dari kreativitas yang pada dasarnya masih senada dengan pendapat Guilford di atas. Ciri tersebut antara lain sensitivitas terhadap masalah (problem sensitivity), kelancaran ide (idea fluency), kelenturan pemikiran (idea flexibility), dan keaslian pemikiran atau idea originality.

Sensitivitas terhadap masalah (problem sensitivity) adalah kemampuan utau kepekaan seseorang untuk melihat masalah. Artinya orang yang kreatif memiliki kepekaan yang lebih tinggi dalam melihat masalah, situasi, dan tantangan sehingga dapat merumuskan masalah, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang benar untuk menganalisis dam merumuskan masalah tersebut.

Kelancaran ide (idea fluency) merupakan kemampuan untuk menciptakan ide-ide sebagai alternative pemecahan masalah. Namun untuk menghasilkan ide-ide, diperlukan adanya pengetahuan luas dan mendalam. Bagi orang kreatif, ia akan mampu melihat masalah dari berbagai macam sudut pandang, serta menciptakan alternatif pemecahannya dari berbagai sudut pandang pula.

Kelenturan pemikiran (idea flexibility) menunjuk kepada kemampuan mengubah ide (pemikiran), meninggalkan suatu kerangka berpikir untuk kerangka berpikir lain untuk mengganti pendekatan satu dengan pendekatan lainnya. Hal ini berarti orang yang kreatif tidak akan terlalu terikat pada pemecahan masalah yang sudah lazim digunakan, akan tetapi ia akan selalu berusaha menemukan alternatif baru yang lebih efektif.

Keaslian pemikiran (idea originality) yaitu kemampuan menciptakan pemikiran atau ide-ide yang asli dari dirinya. Oleh karena itu orang yang kreatif akan mampu menciptakan ide/pemikiran dalam bentuk baru, imajinatif, dan orisinal sehingga dapat menjangkau di luar pemikiran orang biasa, atau dapat berpikir unik melampui cara-cara yang lazim digunakan.

Terkait dengan hal di atas potensi kreativitas yang dimiliki oleh seseorang pemimpin akan member warna yang kental dalam kepemimpinannya, yang pada gilirannya akan mempengaruhui budaya organisasi dan prestasi yang dicapai oleh anggotanya.

  1. Potensi Diri

Filosofis strategi pengelolaan potensi diri dilandasi pada suatu pandangan bahwa, setiap insan manusia memiliki potensi diri dan potensi pengelolaan diri, untuk berkembang dalam hidup. Potensi tersebut adalah aspek-aspek psikologis yang ada dalam diri setiap individu (baik yang kognitif maupun nonkognitif), yang siap untuk berkembang manakala mendapat kondisi yang diperoleh dalam pengalaman di lingkungannya. Aspek-aspek psikologis ini jika mendapat sentuhan secara ilmiah dan sistematis dapat dipastikan dapat berkembang optimal dan terwujud dalam diri setiap individu secara lebih bermakna. Sentuhan psikologis yang sistematis menjadikan semua aspek psikologis itu terukur dan dapat dijadikan pedoman untuk membantu memberi layanan kepada setiap individu. Pengelolaan potensi diri sebagai suatu strategi sebenarnya dapat digolongkan masih relatif baru dalam dunia managemen, karena baru muncul pada tahun 1970. Pengembangan strategi pengelolaan diri ini berawal dari tradisi managemen behavioral kontemporer setelah kaum behavioral memperhatikan pentingnya peranan kognisi terhadap terjadinya perubahan perilaku dan memberikan apresiasi terhadap kekuatan self directed behavior ( Shelton,1976).

Strategi pengelolaan potensi diri pada mulanya dikembangkan oleh Williams dan Long (dalam Corey, 1982). Pada awal perkembanganya strategi pengelolaan diri belum memiliki istilah yang mantap karena belum ada kesepakatan dari para pelopornya sehingga masih bervariasi istilah yang digunakan. Beberapa pelopor dan pengembang selanjutnya menggunakan istilah pengelolaan diri secara berbeda, seperti Meinchenbaum menggunakan istilah self–instruction, Mahoney dan Thorensen menggunakan istilah self–control, sedangkan Watson dan Tarp memakai istilah self–direction (Mahoney & Arnkoff, 1978 ; Krumbolt & Saphiro, 1979). Sangat bervariasinya istilah yang digunakan itu sempat menimbulkan kebingungan dan kekaburan terminologis. Hanya saja, para pakar pengembang tersebut sepakat bahwa pada intinya menunjuk kepada strategi pengubahan dan pengembangan perilaku yang sangat menekankan pada kemampuan individu untuk melakukannya sendiri dengan seminimal mungkin arahan dari instruktur.

Meskipun pada awalnya masih bervariasi istilah yang digunakan, tetapi pada perkembangan-perkembangan selanjutnya terjadi kesepakatan untuk menggunakan istilah pengelolaan diri. Demikian pula Yates (1985) menggunakan istilah pengelolaan diri dengan alasan (1) pengelolaan diri lebih menunjuk pada pelaksanaan dan penanganan kehidupan seseorang dengan menggunakan suatu keterampilan yang dipelajari, dan (2) pengelolaan diri juga dapat menghindarkan konsep inhibisi dan pengendalian dari luar yang sering kali dikaitkan denga konsep kontrol dan regulasi.

Anggapan dasar pengelolaan potensi diri sebagai suatu strategi cognitivebehavioral, adalah memandang setiap manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan positif maupun negatif. Segenap perilaku manusia itu merupakan hasil dari proses belajar dalam merespon berbagai stimulus dari lingkungannya. Namun pengelolaan diri menentang keras pandangan behavioral radikal yang mengatakan bahwa manusia itu sepenuhnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan. Yates (1985) secara tegas menyatakan bahwa pengelolaan diri bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministik dan mekanistik yang menyingkirkan potensi diri individu untuk membuat pilihan dan keputusan. Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam proses belajar untuk menghasilkan perilaku itu aspek kognitif juga memiliki peranan penting terutama dalam mempertimbangkan, menentukan pilihan, dan mengambil keputusan perilakunya. Atas dasar itu pula pengelolaan diri memberikan posisi yang terbaik terhadap proses kognitif dan self – regulated – behavior, dan berguna sebagai strategi pengelolaan sumber daya manusia.

Berdasarkan pandangan tentang hakekat manusia serta perilakunya itu, maka pengelolaan diri bertujuan untuk membantu individu agar dapat mengubah perilaku negatifnya dan mengembangkan perilaku positifnya dengan jalan mengamati diri sendiri, mencatat perilaku-perilaku tertentu serta interaksinya dengan peristiwa-peristiwa lingkungannya, menata kembali lingkungan sebagai anteseden atas respon tertentu, dan menghadirkan diri untuk menentukan sendiri stimulus positif yang mengikuti sebagai konsekuensi atas respon yang diinginkan, yang pada gilirannya akan bermuara pada peningkatan motivasi berprestasi yang bersangkutan.

Sintaks yang dapat ditempuh dalam melakukan pengelolaan potensi diri subyek adalah sbb : (a) Keterlibatan (engagement); keterlibatan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan (interaksi) yang ditujukan untuk memfokuskan perhatian peserta (subyek) agar mereka siap untuk terlibat aktif dalam proses kegiatan. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap keterlibatan, antara lain melalui pemberian sosialisasi-sosialisasi program, mengkaitkan pengalaman yang telah dimiliki peserta (pengetahuan awal peserta) dengan tujuan program yang ingin dicapai, pembangkitan-pembangkitan kemampuan yang telah dimiliki peserta, dsb-nya; (b) Eksplorasi, eksplorasi merupakan kegiatan dimana peserta diberikan informasi (dan/atau mencari informasi) yang perlu secara luas dan dalam tentang program yang akan dilakukan. Eksplorasi dilakukan berdasarkan panduan atau langkah-langkah pemandu yang telah disiapkan dengan memanfaatkan beraneka sumber yang tersedia. Beragam pendekatan seperti otoriter, kolegial sampai yang demokratis dapat digunakan. (c) Elaborasi; merupakan kegiatan anggota untuk menyampaikan hasil eksplorasi yang telah dilakukan secara lebih teliti, cermat dan rinci. Elaborasi dilakukan dalam bentuk penyajian hasil kerja individual atau kelompok. Dalam kegiatan elaborasi, peserta memberikan komentar dan pertanyaan yang bersifat konstruktif terhadap pemikiran/hasil kerja yang disampaikan oleh temannya. (d) Konfirmasi; konfirmasi merupakan kegiatan interaktif antara pemimpin sebagai fasilitator dengan anggota /peserta untuk memberikan umpan balik. Dalam kegiatan ini, pimpinan dapat memanfaatkan berbagai sumber acuan untuk memberikan konfirmasi /penjelasan/klarifikasi. Dari kegiatan ini diharapkan dapat menyukseskan kegiatan yang muncul dari program yang akan dilakukan.

  1. Kepemimpinan dan aktivitasnya

Kepemimpinan Kepala Sekolah maupun Pengawas pada hakikatnya menyangkut pengelolaan/manajemen yang terkait dengan akademik dan managerial. Manajemen akademik menyangkut pengelolaan proses pembelajaran, kualitas tenaga pendidik yang mengelola pembelajaran. Inti dari proses pembelajaran, yang merupakan proses interaksi manusiawi, khususnya antara peserta didik (siswa) dan pendidik (guru) berkaiatan dengan suatu pengalaman tertentu, yang penuh dengan ketidakpastian. Hal ini dikarenakan dalam interaksi tersebut terkait secara kompleks berbagai aspek dalam diri pribadi yang terlibat dalam proses interaksi, baik dari sisi siswa maupun dari sisi guru, dan tidak semua aspek tersebut dapat dikendalikan guru secara langsung. Dari sisi siswa interaksi memberikan jaminan bahwa proses akan berjalan dan dapat menghasilkan out put yang diharapkan manakala siswa memiliki minat, motivasi dan kemamuan untuk belajar. Teori pendidikan mengemukakan bahwa apabila siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar maka out put dari proses belajar mengajar akan berkualitas. Teori belajar ini melahirkan pendekatan dan metoda mengajar yang dikenal dengan istilah student active learning.

Dari sisi guru, proses belajar akan menjamin out put yang berkualitas apabila di samping guru menguasai materi yang akan disampaikan, menguasai metoda penyampaian, memiliki kemampuan menjalin hubungan yang akrab dengan siswa serta memiliki kemampuan untuk menjadikan dirinya menarik bagi siswa. Di samping kemampuan guru harus memiliki kemauan untuk mengabdikan dirinya bagi perkembangan peserta didik. Dengan kemampuan dan kemauan ini maka proses belajar akan menjadi menarik, menyenangkan, mengasyikan, mencerdaskan dan membangkitkan.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka upaya peningkatan kualitas out put pendidikian harus melewati peningkatan kualitas proses belajar mengajar. Banyak kajian untuk menjelaskan proses belajar mengajar yang berkualitas, bagaimana dan faktor-faktor apa yang mempengaruhinya. Wallstern dalam penelitian yang dilakukan berkaitan dengan peningkatan mutu lulusan lewat implementasi school based management menyimpulkan bahwa, peningkatan mutu out put pendidikan harus meningkatkan terlebih dahulu kualitas proses belajar mengajar. Pada gilirannya kualitas proses belajar mengajar bisa meningkat apabila dapat diujudkan dua faktor yang mempengaruhinya. Pertama adanya partisipasi seluruh warga sekolah dan kedua muncul kultur akademik yang melahirkan sekolah sebagai learning community atau learning school. Partisipasi seluruh warga sekolah mulai dari guru dan siswa terutama, kepala sekolah, seluruh staf sekolah dan orang tua siswa akan melahirkan suasana sekolah yang mendukung peningkatan mutu. Kondisi ini amat diperlukan bagi guru dan siswa untuk bekerja keras guna mencapai prestasi setinggi mungkin, sehingga muncul semangat why not the best, khususnya di kalangan siswa. Tanpa ada usaha dan kerja keras terutama dari guru dan siswa kualitas out put tidak mungkin lahir.

Prasyarat kedua, sekolah menjadi a learning community atau a learning school merupakan kondisi di mana sekolah menjadi tempat bagi semua orang untuk belajar. Tidak hanya siswa yang belajar, tetapi siapapun warga sekolah, kepala sekolah, staf administrasi dan guru adalah juga belajar. Jadi bagi guru mengajar siswa juga merupakan proses belajar bagi guru itu sendiri. Dengan demikian guru melaksanakan life long education, belajar sepanjang hayat masih dikandung badan. Kondisi ini akan menghasilkan kualitas dan kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar akan terus meningkat. Tanpa guru terus belajar tidak akan ada innovasi dalam proses belajar mengajar, tanpa innovasi tersebut pendidikan akan biasa-biasa saja. Dan,lebih dari itu tanpa guru terus belajar kerja guru akan out of dated, tertelan zaman.

Menurut Wohlsetter dalam bukunya, Successful SBM: A Lesson for restructuring urban school, semua intervensi untuk meningkatkan mutu pendidikan, harus ditujukan untuk meningkatkan mutu proses belajar mengajar lewat intervening variabel, yakni partisipasi seluruh warga sekolah dan pengembangan a learning school. Intervensi yang diperlukan mencakup antara lain peningkatan sarana prasarana, peningkatan kualitas kepala sekolah, relokasi guru, peningkatan anggaran sekolah, dan peningkatan kemampuan guru.

Teori lain, yang disebut teori empat faktor, menjelaskan bahwa kualitas lulusan secara langsung ditentukan oleh kualitas pembelajaran. Pembelajaran merupakan interaksi dinamis antara guru dan siswa berkaitan dengan materi tertentu. Kualitas pembelajaran sangat tergantung pada kesiapan dan motivasi siswa di satu sisi dan di sisi lain ditentukan oleh kemampuan dan kemauan guru. Interaksi yang sering disebut proses belajar mengajar (PBM) atau sekarang ini disebut dengan pembelajaran, pada giliran berikutnya ditentukan secara langsung oleh empat faktor, yakni, kultur sekolah, manajemen, kepemimpinan dan infrastruktur sekolah yang ada.

Dalam kaitan dengan mutu guru, tepatnya kualitas professional guru, muncul permasalahan serius. Bagaimana kualitas guru dewasa ini? Apa upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu guru? Bagaimana melakukannya atau bagaimana strategi untuk meningkatkan kualitas profesional guru? Jawaban dari pertanyaan tersebut merupakan gambaran betapa perlunya kebijakan dan pedoman peningkatan kemampuan professional guru perlu untuk dirumuskan dan diimplementasikan secara sistematis dan berkesinambungan.

Kualitas guru sangat ditentukan oleh kualitas lulusan lembaga pendidikan guru. Namun, sampai saat ini di kalangan masyarakat masih memiliki keraguan akan kemampuan LPTK dalam menghasilkan guru yang berkualitas. Hal ini dikarenakan begitu dalam jurang variasi perbedaan kualitas diantara LPTK itu sendiri. Salah satu contoh adalah bagaimana rendahnya kualitas guru yang diangkat sebagai CPNS tahun 2004. Para CPNS dari berbagai LPTK dan untuk berbagai jenjang sekolah serta berbagai mata pelajaran ketika dites dengan soal-soal pengetahuan yang relevan dengan tugas pokoknya, hasilnya sangat memprihatinkan. Begitu rendah kemampuan lulusan LPTK. Kondisi yang sedemikian ini menjadi upaya pengembangan kemampuan profesional guru menjadi lebih penting dan sekaligus lebih berat. Program peningkatan kemampuan profesional guru secara sistematis dan berkesinambungan merupakan suatu langkah yang paling strategis untuk meningkatkan kualitas guru dalam rangka meningkatkan kualitas siswa.

1). Ciri kerja guru

Untuk meningkatkan kemampuan profesional guru perlu difahami bagaimana karakteristik kerja guru itu. Semua faham bagaimana kerja guru, tetapi barangkali tidak sempat mencermati sesungguhnya apa dan bagaimana karakteristik kerja guru itu. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas professional guru seharusnya juga bertumpu dari pemahamanan akan karakteristik kerja guru tersebut. Karakteristik kerja guru antara lain adalah (a) waktu guru habis di ruang-ruang kelas, (b) sifat kerja guru non-kolaboratif, (c) kontak akademik antar guru terbatas, (d) kontak antar guru lebih banyak bersifat non-akademik, (e) kerja guru tidak pernah mendapatkan umpan balik, (f) apresiasi dan penghargaan masyarakaat terhadap guru rendah, dan, (g) tidak memiliki kekuatan politik.

Memahami karakteristik tersebut maka peningkatan profesional guru harus dapat meningkatkan kualitas interaksi akademik khususnya diantara para guru sendiri, sembari meningkatkan kemampuan mereka bekerjasama dalam suatu tim, dan dapat menciptakan suatu sistem dimana guru mendapatkan umpan balik yang amat diperlukan dalam proses peningkatan kemampuan profesional guru. Berlandaskan pemikiran ini, maka thesis peningkatan mutu out put sekolah sebagaimana dikemukakan diatas dapat direvisi dan diadopsi untuk peningkatan kemampuan profesional guru.

Meningkatnya
kemampuan professional guru merupakan dependent variable yang secara langsung ditentukan oleh dua variable yang merupakan intervening variable yakni; a) keberadan guru yang aktif dan partisipatif dalam kehidupan sekolah; dan, b) guru menjadikan dirinya sebagai a learning person. Semua intervensi untuk meningkatkan kemampuamn profesoional guru merupakan extrageneous variable yang pengaruhnya terhadap kualitas profesional guru senantiasa harus melewati kedua variable tersebut. Extrageneous variable yang diperlukan sebagai intervensi sudah barang tentu termasuk kebijakan untuk meningkatan kesejahteraan guru, meningkatkan kondisi kerja guru dan pemberian kesempatan bagi para guru untuk memiliki kesempatan mengikuti in-service training dan berbagai bentuk interaksi akademik yang lain. Dan yang paling penting dilaksanakan adalah guru senior melakukan observasi guru ketika sedang mengajar, dan kemudian mendiskusikan, dan memberikan umpan balik kepada guru yang bersangkutan.Tehnik ini paling manjur sekaligus paling murah dalam meningkatkan mutu guru

Dewasa ini dunia berubah dengan cepat sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat pesat. Perubahan yang amat cepat ini juga menuntut perubahan di dunia pendidikan yang cepat pula, agar pendidikan tetap bisa berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai lembaga yang salah satu tugasnya mempersiapkan tenaga kerja maka dunia pendidikan harus memahami bahwa telah terjadi perubahan yang amat cepat dalam tenaga kerja khususnya dan dunai ekonomi pada umumnya. Tenaga kerja telah dan akan terus bergeser ke arah knowledge worker, yakni tenaga kerja yang bertumpu pada penguasaan teknologi untuk mengolah data, tidak lagi pada otot dan pisik. Untuk itu pada diri peserta didik tidak hanya perlu dikembangkan penguasaan ilmu dan teknologi tetapi juga sistem dan bentuk baru ilmu pengetahuan yang menekankan pada sedikit pengetahuan tetapi dapat men-generate data, menganalisis data, menarik kesimpulan dan dapat mengeneralisir dalam konteks yang lebih luas. Dengan kata lain akan terjadi perubahan dalam proses pembelajaran. Sekolah atau guru yang tidak ingin tertinggal oleh perubahan harus dapat belajar dan mengembangkan proses pembelajaran yang lebih cepat dari perubahan itu sendiri. Untuk itulah diperlukan lahirnya a learning school dan a learning teacher.

GAMBAR POLA KAUSALITAS PENINGKATAN

KEMAMPUAN PROFESIONAL GURU


A learning school adalah suatu sekolah yang memiliki kapasitas untuk melakukan pembelajaran yang menciptakan transformasi menuju innovasi. Sekolah ini memiliki ciri utama: a) seluruh warga sekolah, apapun posisinya: siswa, guru, kepala sekolah, staf administrasi, melakukan kegiatan belajar; b) belajar adalah menyenangkan, mengasyikan dan mencerdaskan; c) belajar apapun juga sepanjang apa yang dipelajari memiliki nilai-nilai kebaikan; d) tujuan pembelajaran di sekolah tidak sekedar peserta didik menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan peserta didik mampu hidup dan menghidupkan ; e) guru senantiasa menjadi CAVE worker (Consistence Added Value Everywhere); dan, f) kemajuan sekolah ditentukan oleh apa yang dilakukan guru, khususnya.

A Learning teacher adalah seorang guru yang memiliki ciri: a) Memandang siswa sebagai seseorang yang perlu dilayani, bukannya bahan mentah yang harus diolah; b) memandang sekolah sebagai suatu proses yang memiliki berbagai perbedaan sehingga tidak dapat diperlakukan secara seragam sebagaimana suatu pabrik; c) memahami bahwa guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan; d) memahami proses belajar mengajar sebagai suatu interaksi manusiawi yang penuh dengan ketidakpastian; e) menyadari semakin rendah jenjang pendidikan semakin dibutuhkan peran guru sebagai pengganti ortu; f) menyadari bahwa tugas guru mencakup dimensi akademik melaksanakan proses belajar mengajar dan dimensi non akademis, mencakup membangun moral siswa, kepemimpinan dan organisasi; dan, g) menyadari bahwa belajar sepanjang hayat merupakan keharusan mutlak untuk dilakukan oleh setiap guru.

Di samping itu, ke depan peran guru semakin kompleks karena yang harus dilakukan tidak saja mentrasfer pengetahuan dan ketrampilan tetapi jauh lebih dari itu, yakni mengembangkan peserta didik secara utuh, sehingga mampu hidup dan menghidupkan. UNESCO memberikan resep untuk ini dengan empat tugas guru: learning how to learn, learning how to do, learning how to be dan learning how to live together, sebagaimana dapat dilihat gambar berikut ini.

GAMBAR PARADIGMA MENGAJAR UNESCO


Sebagaimana dilihat pada paradigma baru mengajar UNESCO, maka arah learning how to learn adalah menjadikan siswa menjadi individu yang memiliki semangat, kemauan dan kemampuan untuk terus belajar, atau menjadi learning person. how to do adalah mendidik peserta didik untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi sepanjang kehidupannya. Untuk ini kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki. Kreativitas ini perlu diiringi dengan kemampuan untuk menserasikan kehidupan dengan lingkungannya, sehingga kehidupan menjadi kreatif dan serasi. Learning how to be adalah kemampuan untuk menjadi diri sendiri yang bertumpukan pada integritasnya. Terakhir how to live together adalah kemampuan untuk hidup bersama dengan segala perbedaan yang ada. Salah satu syarat utama yang harus dimiliki adalah kesadaran akan keharusan adanya saling ketergantungan dalam menjalani kehidupan ini. Oleh karena itu, saling memahami, toleransi, dan kerjasama merupakan fondasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Paradigma UNESCO ini memerlukan perubahan perilaku mengajar pada diri setiap guru. Perubahan ini mencakup lima aspek sebagaimana berikut. Pertama kesadaran moral, berupa jawaban atas pertanyaan diri mengapa dan untuk apa saya mengajar ini? Apakah sekedar untuk mendapatkan gaji?

Kedua adalah memahami perubahan yang ada. Hidup dan kehidupan berubah dan terus akan berubah. Apa yang perlu berubah pada diri sendiri dan pada diri peserta didik agar mampu menguasai perubahan? Apa yang perlu dipersiapkan bagi peserta didik?

Ketiga, hidup dan kehidupan sudah ditakdirkan memiliki saling ketergantungan. Oleh karena itu kerjasama merupakan salah satu kemampuan mutlak yang harus dimiliki oleh para peserta didik. Apa yang perlu dipersiapkan pada diri peserta didik? Bagaimana kemampuan bekerjasama ini dapat ditumbuhkan pada diri peserta didik? Bagaimana cara yang harus dilakukan?

Keempat, menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Ilmu pengetahuan terus berkembang dan semakin lama perkembangan semakin cepat. Informasi dan pengetahuan akan mengguyur deras warga masyarakat, termasuk guru dan peserta didik. Bagaimana guru bisa tidak ketinggalan perkembangan ilmu pengetahuan? Apa kemampuan yang harus diberikan kepada peserta didik agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan? Bagaimana melaksanakannya?

Terakhir, kemampuan untuk menjadikan peserta didik kreatif. Apa tehnik untuk mengembangkan kreativitas pada diri peserta didik? Bagaimana melakukannya?

Apabila guru dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut di atas, maka guru memiliki kemampuan, kesiapan dan kemauan untuk melaksanakan proses belajar mengajar, dan ini merupakan modal dasar bagi guru untuk dapat mewujudkan proses pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan mencerdaskan, sehingga dapat hidup dan menghidupkan.

2). Taksonomi peningkatan kemampuan professional

Melihat dan memahami dimensi sekolah yang kompleks dan tugas kepala sekolah (sebagai tugas tamabahan) dan guru yang sedemikian rumit lagi berat, maka guru tidak saja memerlukan pendidikan untuk persiapan jadi guru atau pre-service, melainkan juga perlu pengembangan kemampuan profesionalitas mereka setelah jadi guru atau in-service training. Upaya peningkatan kemampuan professional guru dapat dideskripsikan sebagaimana gambar berikut.


Gambar diatas menunjukan bahwa pembinaan guru memiliki dua dimensi: dimensi arah pembinaan yang dapat dilihat sebagai individu dan sebagai kelompok. Dimensi kedua adalah materi pembinaan yang bisa disajikan dalam bentuk pengetahuan/teknologi yang berkaitan dengan proses belajar menagajar atau metodologi pengajaran dan ilmu pengetahuan/teknologi non-pengajaran, terutama organisasi, kepemimpinan dan manajemen.

Kemampuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan pedagogik jelas udah banyak difahami, namun tidak demikian dengan kemampuan non-pedagogik, yakni kemampuan yang tidak berkaitan langsung dengan PBM. Sesunggunya, kemampuan non-metodologi pengajaran ini amat diperlukan oleh guru, karena guru juga memerlukan kemampuan memimpin, kemampuan berdialog dan negosiasi, serta mempengaruhi orang lain, kemampuan untuk merancang, melakukan, dan mengorganisir perubahan; dan, kemampuan untuk melakukan secara aktif terlibat dalam peningkatan mutu sekolah.

3). Dimensi kegiatan

Kegiatan peningkatan kualitas profesional guru juga dapat dilihat dari dimensi sifat kegiatan. Terdapat dua bentuk kegiatan peningkatan kualitas profesional guru: a) kegiatan berlangsung di sekolah, dan b) kegiatan berlangsung di luar sekolah. Kegiatan yang berlangsung di sekolah adalah kegiatan yang diperuntukan bagi para guru di suatu sekolah. Kegiatan ini antara lain bisa berupa in-house training, observasi proses pembelajaran oleh guru senior, melaksanakan penelitian tindakan kelas. Sedangkan kegiatan di luar sekolah merupakan kegiatan yang diikuti oleh para guru yang berasal dari dua sekolah atau lebih. Bisa saja kegiatan tersebut dilaksnakan di suatu sekolah, tetapi kegiatan ini bukanlah in-hous training. Kegiatan ini antara lain bisa berupa kerjasama antar sekolah dalam peningkatan mutu, kegiatan MGMP suatu kecamatan, daerah, propinsi atau nasional, pelatihan terpusat, studi banding, mengikuti seminar atau workshop di suatu tempat. Dimensi kegiatan ini dikaitkan dengan taksonomi kemampuan profesional guru, sehingga akan dapat diidentifikasi sesuai dengan tujuan dan tempat kegiatan.

Dari identifikasi tersebut akan diketemukan betapa banyak variasi kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas profesional guru sesuai dengan kondisi dan kebutuhan guru sendiri. One size for all policy harus ditinggalkan dalam peningkatan kemampuan profesional guru.

4). Model peningkatan kemampuan professional

Model menunjukan apa dan bagaimana serta modus kegiatan peningkatan kemampuan professional guru dilaksanakan. Paling tidak terdapat 6 model:

  • Program Individual
  • Training
  • Interaksi Tatap Muka
  • Keterlibatan Dalam Kegiatan
  • Observasi-Assessment
  • Inquiry-Action Research

Program Individual merupakan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru sendiri dengan bimbingan atau pengawasan atau persetujuan dari fihak lain, seperti kepala sekolah, pengawas, orang tua siswa, komite sekolah ataupun tim tertentu. Dengan asumsi bahwa guru memiliki semangat dan motivasi untuk meningkatkan kemampuan sendiri, model ini sangat efektif, karena apa yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan riil yang diperlukan. Apa yang dilakukan merupakan upaya untuk mengatasi kekurangan yang dirasakan guru sendiri. Model ini sering disebut juga dengan sains model, dimana guru sendiri mempelajari dari suatu referensi sesuai dengan kebutuhannya, dan langsung secara bertahap mencobakannya. Memang dalam pengalaman mencoba tersebut secara sepiral akan terjadi peningkatan kualitas.

Pelaksanaan program individual mencakup pentahapan sebagai berikut: (1) identifikasi kelemahan yang dimiliki atau minat yang ingin dipelajari; (2) rencana kegiatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan kelemahan atau minatnya; (3) mengkaji referensi yang sesuai untuk mengatasi kelemahan yang dirasakan, (4) persetujuan dari fihak lain atau atasan untuk mencobakan dalam skop kecil-dan nantinya dalam skop kelas; (5) pelaksanaan kegiatan; dan, (6)evaluasi sejauh mana tujuan dapat dicapai.

Bentuk kegiatan Individual program bervariasi. Yang paling sederhana adalah guru membaca buku atau artikel yang relevan untuk dikuasai. Bentuk lain yang lebih kompleks adalah guru merancang untuk mengembangkan sesuatu konsep yang diperlukan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Misalnya, merancang comprehensive course (Proses pembelajaran yang komprehensif).

Model In-Service Training; merupakan model yang sudah diketahui umum dan dianggap identik dengan untuk meningkatkan kemampuan individu guru itu sendiri. Dalam kaitan dengan materi model ini dapat dibedakan dua bentuk training. Pertama training jangka pendek, yakni suatu training yang memiliki tujuan khusus dan diselenggarakan dalam waktu yang relatif pendek. Training kelompok ini banyak dilaksanakan untuk peningkatan kemampuan guru, terutama untuk menguasai hal-hal yang baru. Kedua, training jangka panjang dimana materi training lebih bersifat dan berbobot akademik dan dalam tempo yang relatif panjang. Sebagai contoh kelompok ini adalah program penyetaran guru dengan ijazah SPG ke program D2, guru dengan berlatar belakang D2 atau Sarjana Muda ke S1, dan sebagainya. Program ini di masa mendatang akan berlangsung lebih massif berkaitan dengan program kualifikasi sebagai pelaksanaan amanat UUG&D. Disamping dua kelompok, muncul secara kecil-kecilan, bentuk pertama tetapi dikaitkan dengan bentuk kedua. Artinya, pelatihan untuk tujuan khusus dan dilaksanakan dalam jangka pendek, tetapi pelaksnaannya bekerjasama dengan peguruan tinggi, sehingga materi pelatihan mendapatkan ekuivalensi dengan SKS.

Model In-Service Training atau pelatihan ini memiliki asumsi bahwa materi training merupakan sesuatu yang cocok dengan persoalan yang dihadapi guru, jadi memang dibutuhkan oleh guru. Dari keterlibatan guru dalam training, guru memiliki pengetahuan dan ketrampilan baru yang haus dimiliki. Asumsi kedua, berdasarkan pengetahuan dan ketrampilan baru yang dimiliki guru, perilaku guru dalam mengajar juga berubah.

Model In-Service Training jangka pendek memiliki tahap-tahap yang mencakup:

a.Penentuan substansi materi yang akan disampaikan. Materi ini pada umumnya merupakan sesuatu yang baru, yang berkaitan dengan perilaku guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Namun, terdapat juga pelatihan yang memiliki tujuan lebih umum untuk meningkatkan kemampuan guru sesuai dengan kebutuhan masa kini. Dalam tahap ini juga ditentukan sistem dan prosedur evaluasi bagi peserta, dan kadangkla juga bagi instruktur atau nara sumber.

b. Penentuan, untuk siapa training diselenggarakan. Tahap ini adalah menentukan siapa peserta pelatihan. Dalam kondisi dimana jumlah guru amat besar, perlu ditentukan spesifikasi khusus dari jumlah yang besar itu.

c. Penentuan siapa master training dan instruktur. Master training adalah seseorang yang berperan sebagai komandan pelatihan. Ia adalah seseorang yang menguasai apa dan kemana arah training, yang senantiasa memonitor jalannya training. Master training lah yang menentukan perubahan-perubahan yang perlu dilakukan dalam training. Sedangkan, instruktur adalah pemberi materi. Tidak jarang dalam training instruktur bukan berperan pemberi materi tetapi penuntun dan pengarah jalannya sidang-sidang atau pemberian materi. Pemberi materi sendiri disebut nara sumber.

d. Pelaksanaan evaluasi. Pada tahap ini Master training dengan instruktur menentukan hasil pelatihan. Siapa peserta yang dinyakatan lulus dan siapa tidak. dan bagaimana prestasi yang telah mereka raih.

e. Pembinaan post-training. Tahap ini untuk mengetahui out come pelatihan, seberapa jauh ilmu dan ketrampilan baru yang diperoleh dipergunakan dalam tugas-tugas mereka. Disamping itu, pembinaan post-training ditujukan untuk menjalin jaringan pembinaan peserta sehingga ada kelangsungan peningkatan mutu peserta. Tahap ini, jarang dilaksanakan dalam pelatihan-pelatihan kita.

Model Interaksi Tatap Muka merupakan model peningkatan mutu kompetensi profesional guru dimana terjadi interaksi tatap muka langsung diantara komponen yang terlibat dalam kegiatan, khususnya antara peserta dan penatar. Dari definisi ini sudah barang tentu model training merupakan salah satu bentuk model tatap muka ini. Tetapi model training juga dapat dilakukan dengan tanpa tatap muka. Model tatap muka langsung ini bisa dalam bentuk seminar, studi focus group, workshop, dan sebagainya.

Kegiatan yang dapat diidentifikasi masuk ke dalam model ini antara lain: a) kualifikasi pendidikan S1 yang harus diperoleh guru; b) sertifikasi profesi yang harus dijalani guru; c) program refreshing untuk mempersiapkan guru mengikuti uji sertifikasi; dan, d) program remidial bagi yang gagal uji sertifikasi.

Peserta pelatihan terebut sangat besar dan harus dilaksanakan secara bertahap. Agar kegiatan tersebut di atas dapat dilaksanakan dengan baik maka harus disusun suatu pedoman yang jelas. Seperti a) pedoman pelaksanaan kualifikasi, b) pedoman pelaksanaan sertifikasi, b) pedoman pelaksanaan remidial, dan, e) pedoman pelaksanaan refreshing.

Model tatap muka untuk meningkatkan kompetensi guru dapat melibatkan jumlah peserta yang cukup besar, efektif dan juga murah, serta tidak sulit untuk dilakukan. Secara umum langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melaksanakan model ini adalah:

  1. Tetapkan secara deskriptif dan jelas kemampuan baru yang pelu dikuasai guru.
  2. Evaluasi sarana guru untuk memperoleh kemampuan baru, apakah harus in-service jangka panjang atau jangka penmdek.
  3. Identifikasi sumber-sumber yang ada.
  4. Susun rancangan dan program kerja untuk melaksanakan in- service training yang telah ditetapkan.
  5. Identifikasi peserta, dan bagaimana menentukan jumlah peserta serta kuota untuk daerah.
  6. Perencanaan undangan dan penempatan peserta.
  7. Persiapan dan pelaksanaan M&E.

Model Melibatkan Guru Dalam Kegiatan
merupakan kegiatan yang meningkatkan kemampuan profesional dengan melibatkan guru secara langsung dalam berbagai kegiatan. Model ini dimaksudkan memberikan pengetahuan dan kemampuan baru bagi guru yang akan diperoleh lewat praktik. Dalam bentuk yang paling sederhana model ini diwujudkan dalam learning by doing, dan dalam bentuk yang kompleks diwujudkan dalam bentuk Aksi Konstruksi atau rekayasa sosial dalam pembelajaran. Learning by doing dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah:

  1. Menentukan kemampuan yang akan dikembangkan.
  2. Mengidentifikasi sumber yang ada.
  3. Menentukan design kegiatan.
  4. Menentukan peserta.
  5. Melaksanakan kegiatan.
  6. Melakukan M&E.

Aksi Konstruksi atau rekayasa sosial dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah:

  1. Menentukan kemampuan yang akan dikembangkan.
  2. Mengevalusi dan mengidentifikasi permasalahan yang harus

    dipecahkan.

  3. Mengidentifikasi sumber.
  4. Menentukan design dan skenario kegiatan.
  5. Menentukan peserta.
  6. Melaksanakan kegiatan.
  7. Melaksanakan M&E.

Model Observasi merupakan model peningkatan kompetensi profesional guru yang menekankan pada umpan balik bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Sebagaimana dikemukakan diatas, salah satu ciri kerja guru adalah tidak pernah ada umpan balik atau feedback. Tanpa umpan balik peningkatan mutu dan kemampuan professional guru amat lambat dan sulit. Oleh karena itu pula, banyak hasil penelitian menunjukan bahwa pengalaman kerja guru tidak berkaitan dengan kemampuan guru. Dalam buku manajemen yang berjudul The One Minute Manager karya Blanchard and Johnson (1982) dikemukakan bagaimana pentingnya umpan balik bagi peningkatan kemampuan kerja, dengan mengemukakan “Feedback is the breakfast of champions“.

Pengembangan kemampuan profesional guru dengan model observasi merupakan salah satu cara memberikan umpan balik bagi guru. Kepala sekolah dan juga pengawas memiliki tugas untuk melakukan observasi ketika guru sedang mengajar. Namun, karena beban tugas kepala sekolah yang begitu berat, maka observasi jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan. Disamping itu, observasi yang diperlukan adalah observasi yang serius dan detail, tidak sekedar observasi selintas. Pihak pengawas juga hampir tidak pernah melakukan observasi, karena tekanan pengawas lebih banyak administratif dan juga waktu yang dimiliki pengawas untuk satu sekolah amat terbatas.

Model observasi memiliki beberapa asumsi: a)adanya refleksi atau kajian apa yang telah dilakukan memegang peran penting bagi suatu upaya peningkatan kemampuan profesional guru; b) refleksi oleh diri sendiri dapat diperkuat dan disempurnakan oleh orang lain; c) baik yang diobservasi dan yang melakukan observasi, akan memperoleh keuntungan; dan, d) guru memanfaatkan umpan balik baik kritik dan saran, untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kerjanya.

Pelaksanaan observasi dapat dilaksanakan dalam beberapa tahap:

1. Tahap awal observasi atau pre-observasi. Tahap ini observasi dilakukan secara umum, untuk menentukan aspek apa yang harus amati secara mendalam dan menentukan metode observasi yang perlu dipergunakan.

2. Observasi, tahap untuk melakukan observasi dengan metode yang telah ditentukan dan mencatat persoalan serius atau penting yang muncul. Observasi bisa dipusatkan pada fihak siswa atau guru, atau keduanya. Pola-pola yang berlangsung dalam frekuensi tinggi perlu untuk direkam. Perilaku yang muncul dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok: a) perilaku yang mendukung keberhasilan pengajaran, b) perilaku yang mengganggu pengajaran, dan, c) perilaku yang bersifat netral tetapi banyak menyita waktu.

3. Tahap analisis data, dimana obrserver melakukan analisis hasil observasi. Data perlu untuk dianalisis guna menghasilkan suatu gambaran yang utuh bagaimana guru telah melaksanakan proses belajar mengajar.

4. Tahap konfirmasi, dimana guru dan observer mendikusikan hasil pengamatan observer. Dari tahap konfirmasi ini guru mendapatkan feedback bagaimana ia mengajar, dan juga mendiskusikan dengan observer perubahan dalam mengajar apa yang harus dilaksanakan, upaya apa yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan apa yang baik dan mengurangi apa yang kurang dalam melaksanakan pengajaran, serta merumuskan program untuk perbaikan itu.

Model Inquiry adalah kegiatan peningkatan kompetensi profesional guru yang menekan guru untuk mencari permasalahan yang dihadapi kemudian mencari solusi yang dipraktikan dalam kegiatan mengajar sehari-hari. Solusi dapat diperoleh lewat kajian buku, pengamatan lapangan dan atau diskusi dengan kolega dan fihak yang terkait. Salah satu bentuk model Inquiry yang paling banyak dan hampir dilaksanakan disemua negara adalah Class Room Action Research (CAR). Dan, pelaksanaan CAR sudah terbukti berhasil meningkatkan kompetensi profesional guru.

Pada umumnya langkah-langkah dalam melaksanakan Action Research atau Penelitian Tindakan sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi dan merumuskan permasalahan yang dihadapi.
  2. Melakukan kajian teori dan atau melakukan pengamatan lapangan

    serta diskusi dengan fihak-fihak yang relevan.

  3. Merencanakan program aktivitas untuk memecahkan masalah

    tersebut.

  4. Melaksanakan program dan aktivitas.
  5. Melakukan evaluasi atas program yang dilaksanakan dalam rangka

    memecahkan permasalahan.

  6. Merevisi dan nyempurnakan program pemecahan masalah

    berdasarkan atas hasil evaluasi.

  7. Melaksanakan program kegiatan yang telah diperbaharui.
  8. Melakukan evaluasi atas program yang dilaksanakan.
  9. Melakukan kembali penyempurnaan program.
  10. Melaksanakan kembali program yang telah disempurnakan.
  11. Merumuskan hasil dan menyusun laporan.

Model peningkatan kompetensi profesional guru ini dapat dikombinasikan dengan dimensi materi dan sasaran peningkatan kemampuan guru sehingga memberikan gambaran lebih detail bagaimana kegiatan peningkatan kemampuan profesional guru dilaksanakan. .

Implementasi peningkatan kemampuan profesional guru

Pembahasan terakhir dalam mengembangkan program kegiatan peningkatan kemampuan guru adalah menentukan atau pembagian kerja siapa dan melaksanakan apa. Kalau diidentifikasi terdapat lembaga yang memiliki tanggung jawab melaksanakan peningkatan kemampuan guru. Kalau disusun mulai lembaga yang paling langsung berhubungan dengan guru, dapat dilihat sebagaimana daftar urutan berikut:

  1. Sekolah (termasuk MGMP sekolah)
  2. MGMP antar sekolah/PKG/kelompok sekolah
  3. Kancam
  4. Dinas Kabupaten/kota
  5. LPMP
  6. Dinas Propinsi
  7. PPPG
  8. Perguruan Tinggi
  9. Lembaga dan Organisasi masyarakat.

Produktivitas Kepemimpinan

Produktivitas kerja erat kaitannya dengan efisiensi, efektivitas, dan kualitas kerja dan tidak semata-mata ditujukan untuk mendapatkan hasil kerja sebanyak-banyaknya. Laeham dan Wexley (1982:2), mengungkapkan bahwa : “produktivitas individu dapat dinilai dari apa yang dilakukan oleh individu tersebut dalam kerjanya. Dengan kata lain, produktivitas individu adalah bagaimana seseorang melaksanakan pekerjaannya atau unjuk kerjanya (job performance)”. Sementara Tohardi menjelaskan bahwa, “produktivitas dapat diartikan sebagai perbandingan antara output (keluaran) dengan input (masukan)” (Tohardi, 2002:448). Kemudian Raviyanto dkk (1988:75)
yang mengutip Lmbaga Produktivitas Norwegia menyebutkan bahwa produktivitas adalah hubungan di antara jumlah produk yang, diproduksi dan jumlah sumber daya yang diperlukan untuk memproduksi produk tersebut. Selanjutnya Rome Conference European Productivity Agency tahun 1958 menyebutkan bahwa: (a) produktivitas adalah derajat efisiensi dan efektivitas dari penggunaan elemen produksi; (b) produktivitas merupakan sikap mental , sikap mental yang selalu mencari perbaikan terhadap apa yang telah ada. Suatu keyakinan bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaan lebih baik hari ini daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Selanjutnya produktivitas berhubungan dengan sikap mental yang mementingkan usaha yang terus menerus untuk menyesuaikan aktivitas ekonomi terhadap, kondisi yang berubah. Sementara menurut Dewan Produktivitas Nasional. Republik Indonesia Tahun 1983, mencantumkan bahwa : (a) produktivitas mengandung pengertian sikap, mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa kehidupan hari ini harus selalu lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini, (b) secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan. (c) Produksi dan produktivitas merupakan dua pengertian yang berbeda. Peningkatan produksi menunjukkan pertambahan jumlah hasil yang dicapai, sedangkan peningkatan produktivitas mengandung pengertian pertambahan hasil dan perbaikan cara produksi. Peningkatan produksi tidak selalu disebabkan oleh peningkatan produktivitas, karena produksi dapat saja meningkat walaupun produktivitasnya tetap atau menurun (dalam Tohardi, 2002:449).

Dilihat dari segi psikologi, produktivitas adalah suatu tingkah laku. Produktivitas menunjukkan tingkah laku sebagai keluaran (output) dari suatu proses berbagai macam komponen kejiwaan yang melatarbelakanginya (Anoraga, 2001:50). Ini berarti, kalau berbicara tentang produktivitas tidak lain daripada berbicara mengenai tingkah laku manusia atau individu, yaitu tingkah laku produktivitasnya. Sedarmayanti mengutip formulasi National

Productivy Board (NPB) Singapore, dikatakan bahwa produktivitas adalah sikap, mental (attitude of Mind) yang mempunyai semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan. Perwujudan sikap mental, dalam berbagai kegiatan antara lain sebagai berikut: (1) yang berkaitan dengan diri sendiri dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, disiplin, upaya peribadi dan kerukunan kerja; (2) yang berkaitan dengan pekerjaan dapat dilakukan melalui manajemen dan metode kerja yang lebih baik, penghematan beaya, ketepatan waktu, dan sistem serta teknologi yang lebih baik (Sedarmayanti, 2001:57). Sedangkan pengertian produktivitas dikaitkan dengan individu productive dikemukakan oleh Gilmore (1974), Erich Fromm (1975) yang dikutip oleh Sedannavant (2001:79), berpendapat tentang individu produktif, yaitu: (1) tindakannya konstruktif, (2) percaya pada diri sendiri, (3) bertanggung jawab, (4) memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan, (5) mempunyai pandangan ke depan, (6) mampu mengatasi persoalan dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah, (7) mempunyai kontribusi positif terhadap lingkungannya (aktif, imaginative, dan inovatif), dan (8) memiliki kekuatan untuk mewujudkan potensinya. Aspek-aspek inilah yang semestinya dapat dimunculkan dalam organisasi, sehingga budaya organisasi tersebut akan member kontribusi pada output maupun out come yang diharapkan. Demikian juga pada organisasi sekolah, sangat diperlukan perilaku-perilaku yang positif untuk dapat memunculkan kondusivitas, dan hal tersebut sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, produktivitas kerja yang dimaksud adalah suatu sikap mental dan tingkah laku guru untuk terus menerus mengadakan peningkatan perbaikan menyangkut diri sendiri seperti peningkatan pengetahun, keterampilan, disiplin, kerukunan kerja, dan yang berkaitan dengan pekerjaan melalui peningkatan perbaikan manajemen dan metode kerja, penghematan biaya, ketepatan waktu, dan sistem serta teknologi yang lebih baik. Dalam kaitan dengan itu indicator produktivitas yang digunakan adalah sebagai berikut : (1) tindakannya konstruktif, (2) percaya pada diri sendiri, (3) bertanggung jawab, (4) memiliki rasa cinta terhadap pekerjaan, (5) mempunyai pandangan ke depan, (6) mampu mengatasi persoalan dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah-ubah, (7) mempunyai kontribusi positif terhadap lingkungannya (aktif, imaginative, dan inovatif), dan (8) memiliki kekuatan untuk mewujudkan potensinya.

Download Tulisan

Posted on September 30, 2009, in Tulisan. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. selamat pagi prof
    saya mahs kel smp3 denpasar
    apakah memungkinkan saya akan mengembangkan instrumen kreatvitas?
    dengan 11 refensi buku dari tulisan prof atau mungkin prof ada buku khusus yang ada
    saya mengambil masalah ttg pbl dan kreativitas anak smk pelajaran komputer (KKPI)
    mohon saran….
    wasalam
    sukiawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: