KONSEP DASAR DAN PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

KONSEP DASAR DAN PROSEDUR

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

————————————————————

Oleh :

Prof.Dr. N. Dantes

Undiksha – Singaraja

*********************************************************************************************

1. Pendahuluan

Dewasa ini, kualitas pendidikan telah menjadi salah satu fokus perhatian, setelah sekian lama kita berkutat dengan upaya-upaya peningkatan kuantitas, seperti wajib belajar, pemerataan pendidikan secara massal, dan sekarang sudah saatnya (bahkan sudah terlambat), harus mulai memberikan penekanan pada upaya-upaya peningkatan kualitas. Banyak upaya yang bisa dilakukan kearah itu, seperti peningkatan kualitas pembelajaran, peningkatan kualitas professional guru, penciptaan iklim yang inovatif dalam pembelajaran, dan salah satunya upaya yang tidak boleh dilupakan adalah pemanfaatan hasil-hasil penelitian untuk pengambilan kebijakan pendidikan, serta yang lebih mikro adalah untuk perbaikan pembelajaran.

Perlu disadari bahwa, hasil-hasil penelitian tidak begitu saja dapat secara langsung mempengaruhi praktik pembelajaran di kelas. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, penelitian-penelitian tersebut dilakukan oleh peneliti dari luar seperti dosen maupun peneliti dari lembaga penelitian lainnya. Sekolah hanya digunakan sebagai kancah (seting) penelitian, dimana permasalahan penelitian ditentukan oleh peneliti, bukan masalah-masalah riil yang terjadi di kancah tersebut. Akibatnya, sekolah (murid dan guru) hanya semata-mata berperan sebagai instrumental, dalam arti hanya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan peneliti.

Kedua, dengan masalah yang dibawa dari luar berarti guru tidak terlibat secara langsung dalam menentukan masalah tersebut. Akibatnya, masalah-masalah itu tidak dihayati oleh guru sehingga pembentukan pengetahuan (knowledge construction) tidak terjadi. Dengan demikian, tidak ada masukan yang dapat dipakai guru untuk meningkatkan pembelajarannya.

Ketiga, penyebarluasan hasil-hasil penelitian memakan waktu lama karena prosedur diseminasi yang harus dilalui sangat panjang, yang meliputi berbagai kegiatan seperti penerjemahan hasil-hasil penelitian itu dalam suatu program, juga termasuk prosedur birokratik yang melelahkan.

Mengantisipasi hal tersebut di atas, orientasi baru dalam cara memandang proses pembelajaran, yaitu yang mengedepankan tanggungjawab semua pihak dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, telah menempatkan sekolah tidak semata-mata sebagai objek, melainkan sebagai subjek pelaku penelitian. Orientasi ini memunculkan penelitian tindakan kelas (classroom action research), suatu jenis penelitian dimana guru berperan sebagai pelaku langsung penelitian itu, sehingga guru dapat membangun sendiri pengetahuannya melalui praktik pembelajarannya, demi peningkatan efektifitas pembelajaran dan bahkan untuk perbaikan hasil pembelajaran, jadi unsur formatif dan diagnostik dapat terjadi.

Sejak berkembang kembali di tahun 1960an (dimana penelitian tindakan kelas pertama kali diperkenalkan di Inggris pada tahun 1920), penelitian tindakan (action research) kini menjadi salah satu jenis penelitian yang banyak dilakukan, terutama dalam penelitian-penelitian sosial dan pendidikan. Kemmis (1983) mengatakan bahwa penelitian tindakan merupakan suatu ujicoba ide-ide sehingga dapat bermanfaat bagi lingkungan situasi. Stringer (1999) maupun Webb (dalam Zuber-Skerrit, 1996) menyebut penelitian tindakan sebagai suatu penelitian dalam kehidupan profesional dan publik. Hopkins (1993) maupun Kemmis dan McTaggart ( 1988) lebih menekankan pada penggunaan penelitian tindakan sebagai upaya pengentasan masalah-masalah riil, untuk meningkatkan efektifitas. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa penelitian tindakan sebagai suatu upaya peningkatan profesionalisme dan efektifitas kegiatan publik melalui pemecahan masalah-masalah riil.

Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah salah satu bentuk penelitian tindakan. Mengikuti ciri-ciri penelitian tindakan, PTK lebih diarahkan pada praktek pemecahan masalah yang terjadi dalam konteks pembelajaran, khususnya dalam konteks kelas, sebagai suatu unit pembelajaran. PTK lebih diarahkan pada penanganan masalah-masalah riil dan situasional (kelas), jadi dapat dikatakan tidak ada PTK jika tidak ada masalah yang dirasa perlu untuk ditangani.

Dilihat dari sifatnya, PTK adalah penelitian tindakan yang bersifat praktis dengan tujuan meningkatkan efektifitas pembelajaran dan mengembangkan pemahaman para pelaku dan pengembang keahlian. Singkatnya, PTK adalah suatu praksis perbaikan pembelajaran

Dengan landasan fikir seperti di atas, tidak dapat disangkal lagi bahwa guru seyogyanya memahami dan dapat melakukan PTK. Penulisan makalah ini bertujuan agar peserta (dosen maupun peserta didik calon guru): (1) memahami konsep-konsep dasar PTK. Pembahasan konseptual ini dimaksudkan sebagai pemicu pengembangan wawasan peserta tentang PTK, (2) memahami prosedur pelaksanaan PTK, (3) melakukan PTK untuk meningkatkan praktik pembelajarannya, yang berakibat pada peningkatan kualitas pembelajaran dan pendidikan.

2. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas

2.1 Pengertian Dan Karakteristik Ptk

Hopkins (1993) mendefinisikan PTK sebagai berikut :…a form of self-reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out.

Dari definisi di atas, dapat kita cermati bahwa PTK merupakan suatu kajian yang bersifat reflektif dari pelaku penelitian tersebut. PTK dilakukan dalam suatu situasi sosial (termasuk didalamnya situasi pendidikan) dalam upaya memantapkan alasan dan ketepatan dari (a) praktik pembelajaran pelaku penelitian (guru), (b) pemahaman terhadap praktik tersebut, dan (3) situasi dimana praktik tersebut dilakukan. Dengan pengertian di atas, jelaslah bahwa PTK merupakan suatu penelitian yang dilakukan karena adanya kebutuhan pada saat itu, suatu situasi yang memerlukan penanganan langsung dari pihak yang bertanggungjawab atas penanganan situasi tersebut (guru).

Berdasarkan pengertian di atas, PTK memiliki beberapa karakteristik, sebagai berikut.

  1. PTK adalah suatu penelitian tentang praktik pembelajaran yang dilakukan oleh guru itu sendiri (an
    inquiry
    on practice from within).
    Kegiatan penelitian oleh guru ini dipicu oleh permasalahan praktis yang riil terjadi dan dialami langsung (jadi, bersifat spesifik-kontekstual, practice driven), dan bagaimana masalah tersebut ditangani secara langsung pula (action driven). Hal ini mengisyaratkan bahwa guru committed dalam pembelajarannya, termasuk bersedia mengubah diri (praktik pembelajarannya) bila situasi menghendaki demikian. Jadi, guru secara terus-menerus mencermati praktiknya dan permasalahan yang timbul, serta aktif mencari alternatif-alternatif pengentasan masalah yang dihadapinya. Melalui PTK, guru akan terbiasa menghadapi tantangan dan bersedia membuka diri bagi pengalaman dan berbagai proses pembelajaran yang baru. Dengan demikian, dalam PTK guru mengalami suatu involvement, keterlibatan langsung dalam PTK, dan improvement, perbaikan cara kerja dan pola fikir pedagogik (McNiff, 1992).
  2. Kerjasama kesejawatan antara para pelaku PTK (kolaboratif). Kerjasama kesejawatan mengisyaratkan bahwa dalam melakukan PTK, semua anggota tim peneliti bekerja dalam kesetaraan dalam semua tahapan PTK. PTK tidak menganut pendekatan misionaris, dimana satu pihak berposisi membimbing pihak lainnya. Hal ini perlu ditekankan karena kolaborasi seringkali terjadi antara dosen/peneliti dari perguruan tinggi dengan guru. Dosen tersebut menganggap dirinya terjun membina guru, hal ini keliru. Dosen mungkin saja lebih paham dalam teori-teori pembelajaran, terutama teori-teori baru; tetapi guru adalah orang yang paling tahu mengenai kondisi/situasi yang sedang dihadapi. Karena itu, hubungan guru-dosen adalah hubungan kesejawatan, bukan satu lebih tinggi dari yang lain. Hubungan kesejawatan ini juga memiliki dampak positif lain; yaitu terbangunnya jembatan LPTK-sekolah dimana dosen semakin akrab dengan lapangan, sementara guru dapat menimba inovasi-inovasi yang ditawarkan dosen.

    Kemmis dan McTaggart (1988) menyebutkan lima prinsip kolaboratif dalam PTK, yaitu (a) penghargaan terhadap waktu, (b) pembuatan keputusan bersama, (c) partisipasi yang terbuka dan seimbang dalam diskusi, (d) menetapkan persetujuan yang bersifat mengikat, dan (e) pembagian tugas yang adil.

  1. PTK adalah suatu kegiatan reflektif yang dipublikasikan (a reflective practice, made public). Karakteristik ini menekankan bahwa, meskipun PTK adalah suatu tindakan reflektif (a reflective practice), namun dalam PTK guru bertindak sebagai guru peneliti (teacher-researcher) yang mengkaji permasalahannya secara sistematis dan mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang cocok. Laporan dari PTK disebarluaskan (made public) pada sejawat guru (peer review), dan ini merupakan suatu situasi yang baik untuk peningkatan profesionalisme.

2.2 Prinsip-Prinsip PTK

Ada enam prinsip yang mendasari PTK, yaitu: Pertama, tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas. Oleh karena itu, guru harus memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Mempelajari permasalahan pembelajaran yang dihadapi dan mengupayakan tindakan terbaik untuk mengatasinya. PTK adalah salahsatu cara yang dapat dilakukan.

Kedua, meneliti adalah tugas integral dari pembelajaran,; oleh karena itu tidak diperlukan waktu guru secara khusus untuk menangani penelitian yang dilakukannya (karena penelitian tersebut dilakukan guru didalam kelas yang diasuhnya).

Ketiga, Kegiatan penelitian guru ini harus tetap bersandar pada kaidah-kaidah penelitian sebagai suatu karya ilmiah (an inquiry).

Keempat, masalah-masalah yang ditanganai adalah masalah pembelajaran yang riil, yang langsung dialami oleh guru. Bahwa tinjauan terhadap pustaka dan teori diperlukan, tetapi hendaknya semata-mata sebagai dukungan atau justifikasi terhadap masalah riil tersebut. Masalah yang lahir dari kajian teori dianggap tidak relevan dan melanggar otentisitas masalah PTK.

Kelima, Konsistensi guru dalam kegiatan pengentasan masalah-masalah yang dihadapinya sangatlah penting. Ini berarti bahwa guru diharapkan secara kontinyu mengkaji masalah-masalah pembelajarannya. Pada akhirnya, guru menjadi guru peneliti (teacher researcher).

Keenam, cakupan permasalahan hendaknya tidak terbatas pada permasalahan yang ditemui di dalam kelas, tetapi juga dapat diperluas pada masalah persekolahan maupun Pendidikan.

2.3 Perbandingan PTK dengan Penelitian Formal

Sejauh ini kita berbicara tentang PTK sebagai suatu jenis penelitian. Sebelum PTK diperkenalkan di Indonesia oleh proyek PGSM pada tahun 1997, penelitian-penelitian pendidikan, kebanyakkan adalah penelitian formal, yaitu penelitian yang menggunakan sekolah hanya sebagai kancah. Jenis penelitian yang banyak dilakukan adalah eksperimen- ex-post facto. PTK adalah suatu fenomena yang berbeda dengan penelitian formal, karena PTK adalah dari, oleh, dan untuk kancah (kelas) itu. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara penelitian formal dengan PTK.

Raka Joni (1998) mengatakan bahwa perbedaan hakiki antara penelitian formal dengan PTK adalah tujuan masing-masing. Penelitian formal bertujuan menemukan dan menguji suatu pengetahuan baru (discover and verify new knowledge), yang dapat diberlakukan secara luas (generalisasi). Di pihak lain, PTK samasekali tidak tertarik pada generalisasi, karena permasalahan yang diangkat, dan pengetahuan yang diperoleh bersifat kontekstual. PTK lebih menekankan pada kebermanfaatan suatu kegiatan yang langsung dapat menangani permasalahan.

Berikut ini ditabelkan beberapa dimensi penelitian sebagai alat pembanding antara PTK dengan penelitian formal.

Perbandingan antara penelitian Formal dengan PTK

NO.

DIMENSI

PTK

PENEL. FORMAL

1.

Tujuan

Meningkatkan praktik pembelajaran dalam konteks

Menguji dan menemu-kan pengetahuan baru yang dapat digenera-lisasikan

2.

Motivasi

Tindakan penanggulangan masalah

Memperoleh kebenaran ilmiah

3.

Sumber masalah

Diagnosis status (dalam situasi spesifik)

Deduksi-induksi

4.

Peneliti

Pelaku langsung (dari dalam konteks)

Dari luar konteks

5.

Subjek penelitian

Spesifik (kasus)

Sampel yang represent-tatif

6.

Metode penelitian

“longgar’

‘ketat’

7.

Interpretasi hasil

Pemahaman melalui refleksi kritis dan refleksi diri

Menjelaskan fenomena untuk membangun teori

8.

Hasil akhir

Peningkatan kualitas pembelajaran (proses dan produk)

Pengetahuan, prosedur, maupun materi yang teruji (produk)

(Adaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas, Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah Menengah, Proyek PGSM, 1999)

Metode penelitian yang ‘longgar’ dalam PTK banyak mengundang perdebatan. Perlu dipahami bahwa longgarnya metode penelitian ini bukan berarti bahwa PTK tidak mengikuti kaidah-kaidah prosedur penelitian yang baik. PTK tetap dilakukan sebagai suatu ‘inquiry‘ yaitu sebagai suatu tindakan ilmiah dimana aroma ‘sistematis’ tetap ada. Kegiatan sistematis dapat dilihat dari prosedur penemuan dan identifikasi masalah hingga penulisan laporan penelitian. Namun, ada aspek-aspek PTK yang dilakukan tidak ‘seketat’ penelitian formal, misalnya pada pengembangan instrumen.

Seperti kita ketahui dalam penelitian formal, seperti misalnya dalam suatu eksperimen, alat-alat ukurnya harus divalidasi terlebih dahulu. Validasi ini memang memakan waktu, tenaga, dan biaya yang cukup banyak, namun harus dilakukan karena, seperti telah dikemukakan di depan, tujuan penelitian formal adalah memperoleh suatu generalisasi, karenanya alat-alat ukurnya pun harus mencerminkan keterwakilan (representativeness) dari populasi yang hendak dikenakan generalisasi. Sedangkan dalam PTK, ukuran keberhasilan adalah sejauhmana masalah yang sedang dihadapi dapat terselesaikan. Karena ia bersifat kontekstual, maka pengukuran keberhasilannya pun disesuaikan dengan konteks. Dalam hal pengukuran hasil belajar misalnya, cukup digunakan Kompetensi Dasar (KD) dan indikatornya sebagai pedoman penyusunan alat ukurnya.

3. Desain dan Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Pada dasarnya, memecahkan masalah yang dialami, baik oleh guru maupun murid, bukanlah hal baru bagi guru. Justru itu sudah merupakan salah satu kegiatan rutin. Ketika hasil ulangan siswa tidak memuaskan, guru berusaha mencari penyebabnya (mengenali masalahnya), lalu mencari alternatif pemecahan masalah, dan mencoba menerapkannya. Demikian juga hakekat PTK. Namun, satu hal yang belum dilakukan guru sehubungan dengan itu adalah melakukannya secara sistematis. Sistematis disini berarti dilakukannya PTK secara sadar dengan menerapkan prinsip-prinsip penelitian yang relevan. PTK yang dilakukan secara sadar berarti PTK itu direncanakan, dilakukan, dan dilaporkan dalam format layaknya sebuah hasil penelitian (made public). Hal-hal inilah yang perlu diketahui dan dilatihkan pada guru. Dengan adanya format pelaporan yang sistematis, maka karya guru itu bukan hanya dapat dihargai sebagai suatu karya ilmiah, namun juga menunjukkan adanya suatu paradigma baru dimana guru dapat menjadi peneliti (teacher researcher).

Untuk itu diperlukan suatu desain dan prosedur PTK, yang dapat memberikan petunjuk kepada guru bagaimana melakukan PTK dengan baik.

3.1 Desain PTK

Desain PTK berbentuk siklus-siklus. Satu siklus terdiri atas empat fase, yaitu, (1) fase perencanaan (planning), (2) fase pelaksanaan (action), (3) fase observasi/pemantauan (observation), dan (4) fase refleksi (reflection). Hubungan keempat fase dapat digambarkan sebagai berikut.


(1). Fase Perencanaan (Planning)

Pada siklus pertama, perencanaan tindakan (planning) dikembangkan berdasarkan hasil observasi awal. Dari masalah yang ada dan cara pemecahannya yang telah ditetapkan, dibuat perencanaan kegiatan pembelajarannya (KBM). Perencanaan ini persis dengan KBM yang dibuat oleh guru sehari-hari, termasuk penyiapan media, dan alat-alat pemantauan perkembangan pembelajaran seperti lembar observasi, tes, catatan harian, dan lain-lain.

(2). Fase Pelaksanaan (Action)

Fase ini adalah pelaksanaan KBM yang telah direncanakan. Pelaksanaan ini berjalan sesuai dengan kegiatan mengajar sehari-hari, dengan menggunakan satuan pelajaran dan skenario pembelajaran yang telah disusun pada fase planning di atas.

(3). Fase Observasi/pemantauan (Observation)

Dalam fase observasi, dilakukan beberapa kegiatan seperti pengumpulan data yang diperlukan. Untuk mendapat data ini, diperlukan instrumen dan prosedur pengumpulan data. Dalam fase ini juga dilakukan analisis terhadap data, dan interpretasinya. Fase ini berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan tindakan (action), dan pada akhir tindakan. Data yang diambil selama pelaksanaan tindakan misalnya observasi perilaku siswa dan observasi terhadap jalannya PBM. Data yang diambil setelah pelaksanaan tindakan (setelah PBM) misalnya hasil belajar yang didapatkan melalui tes, dan data pendapat siswa melalui wawancara.

(4). Fase Refleksi (Reflection)

Fase ini terdiri atas refleksi kritis dan refleksi diri. Refleksi kritis adalah pemahaman secara mendalam atas temuan siklus tersebut, dan refleksi diri adalah mengkaji kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama siklus berlangsung. Dengan demikian, fase ini berisi kegiatan analisis data, pemaknaan hasil analisis, pembahasan, penyimpulan, dan identifikasi upaya tindak lanjut. Hasil identifikasi tindak lanjut, selanjutnya menjadi dasar dalam menyusun perencanaan (planning) siklus berikutnya.

3.2. Prosedur PTK

Secara prinsip terdapat beberapa langkah yang mesti dilakukan dalam suatu PTK, sebagai berikut.

(1). Identifikasi Masalah

Tahap ini sebenarnya mencakup beberapa hal yang terkait dengan permasalahan yang diangkat dalam PTK, yaitu merasakan adanya masalah, menemukan masalah, menganalisis masalah, dan merumuskan masalah dalam bentuk masalah penelitian.

Pengalaman penulis bertemu dengan guru-guru adalah bahwa mereka cenderung tidak merasakan adanya masalah dalam pembelajarannya. Sebagian menganggap bahwa kalau pun ada hal-hal yang tidak ‘pas‘, itu dianggap wajar saja terjadi. Sebagian memang menganggap tugas mereka hanyalah mengajar, bukan menyelesaikan masalah. Guru yang dapat merasakan adanya masalah adalah guru yang seringkali merasa tidak puas dengan hasil pembelajaran yang dilakukannya. Dia selalu bertanya-tanya kenapa misalnya, perilaku anak-anak dikelasnya kurang disiplin, padahal tak kurang dari sehalaman penuh peraturan disiplin telah dipajang dalam sebuah bingkai yang cantik, serta pelajaran budi pekerti yang selalu diselipkan dalam setiap pelajaran.

Dari ketidakpuasan itu guru akan mencoba mencari masalahnya (What is the problem?) Banyak cara yang dapat dilakukan seperti menanyai murid secara langsung maupun tidak langsung, mencermati hasil-hasil ulangan maupun tugas-tugas murid, mengamati secara lebih dalam tingkah laku murid, dan lain-lain. Kegiatan ini disebut observasi awal.

Setelah masalah ditemukan, guru melakukan analisis masalah, untuk menemukan penyebabnya (Why this problem happened?). Cara-cara di atas dapat pula dilakukan untuk mendapat jawaban, juga sangat penting mendiskusikannya dengan tim kolaborasi.

Setelah masalah dapat diidentifikasi, maka dibuat rumusan masalahnya.

(2). Menetapkan Fokus

Dari permasalahan tersebut akan dapat dilihat faktor-faktor apa saja yang terlibat. Antara lain, faktor murid (kesulitan belajar, kurang perhatian, miskonsepsi, dsb), faktor guru (salah strategi, kebiasaan guru yang mengganggu seperti terus-menerus memperbaiki letak kacamata), faktor penunjang (buku ajar yang kurang cocok, media, ruang kelas yang sempit dan gelap). Dalam hal ini sangat penting untuk menetapkan faktor-faktor yang paling berpengaruh sebagai fokus/variabel. Perhatikan bahwa fokus yang terlalu sedikit/sempit mungkin tak mampu mewakili masalah yang sebenarnya; dan fokus yang terlalu luas/banyak, sangat sulit untuk ditangani.

Penetapan fokus terkait dengan penetapan indikator kinerja. Indikator kinerja adalah standar pencapaian hasil yang ditetapkan oleh peneliti, sesuai dengan kebutuhannya/ masalah yang hendak dipecahkan. Contoh, dapat masalah kesulitan belajar yang ditunjukkan dengan prestasi yang rendah, guru dapat menetapkan indikator kinerja berupa mastery learning, yaitu minimal 80 persen murid mencapai ketuntasan belajar minimal 65 persen.

(3). Menetapkan Cara Pemecahan Masalah

Untuk menetapkan cara pemecahan masalah, terlebih dahulu perlu dilakukan kajian teori dan empiris (hasil-hasil penelitian), dan/atau diskusi dengan tim maupun ahli dalam masalah tersebut. Guru seringkali menghindari kajian teori karena kurangnya bacaaan yang tersedia, namun untuk dapat menemukan alternatif pemecahan masalah yang terbaik memang diperlukan wawasan yang cukup. Materi-materi dari MGMP, makalah dari penataran, dan tulisan-tulisan dari jurnal sangat membantu dalam hal ini. Dari hasil kajian itu guru menetapkan cara pemecahan masalah.

(4). Melaksanakan Siklus-Siklus

Telah diketahui bahwa PTK menggunakan desain siklus dalam pelaksanaannya. Siklus pertama diawali dengan observasi awal, dan seterusnya. Siklus kedua dan seterusnya tergantung pada hasil refleksi siklus sebelumnya. Dengan demikian, banyaknya siklus dalam suatu PTK tidak dapat ditentukan sejak awal. PTK berakhir apabila indikator kinerja telah tercapai.

Karena itu, keempat fase dalam suatu siklus harus tuntas dikerjakan sebelum memulai siklus berikutnya. Hal ini sangat berbeda dengan penelitian konvensional dimana analisis data dilakukan paling akhir, yaitu setelah semua data terkumpul.

(5). Melakukan Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil-hasil dari setiap siklus selanjutnya dibahas setelah siklus terakhir tuntas. Hasil-hasil ini dapat memberikan gambaran perkembangan yang terjadi dari siklus ke silkus secara linier. Disini akan dapat pula dilihat fenomena-fenomena menarik yang merupakan ciri umum yang terjadi dalam upaya pemecahan masalah tersebut. Bagian ini dapat menjadi ‘gong‘ dari seluruh proses penelitian yang dilakukan.

(6). Menulis Laporan

Semua kegiatan yang dilakukan mesti dilaporkan dalam bentuk karangan ilmiah (lihat format laporan). Sesungguhnya menulis laporan ini tidak sulit, bila setiap hal yang terjadi dicatat dengan rapi. Misalnya, hasil-hasil pelaksanaan setiap siklus telah disusun dengan baik setiap siklus tersebut berakhir.; sehingga ketika menulis laporan guru hanya mengkompilasi hasil-hasil tersebut. Perhatikan aturan penulisan dalam karya ilmiah, sebab ini penting apabila laporan tersebut digunakan untuk pengusulan kenaikan pangkat.

Sangat baik jika laporan tersebut dapat diseminarkan antara sesama guru sejenis, seperti di MGMP. Paling tidak ada dua manfaat utama dilakukannya seminar hasil-hasil PTK. Yang pertama, guru peneliti bisa mendapat masukan yang berguna untuk menambah kualitas karyanya. Yang kedua, terjadinya diseminasi hasil PTK pada guru-guru, sebagai pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi guru-guru lain.

4. Contoh-Contoh Masalah

(1). Seorang guru PPKn merasa gundah melihat perilaku anak didiknya di dalam kelas maupun di luar kelas. Guru itu menilai murid-murid tidak disiplin, baik dalam melakukan tugas-tugas pelajaran, tugas-tugas sekolah, maupun dalam hubungannya dengan interaksi sesama teman. Murid-murid sering bolos dan jarang membuat PR. Interaksi sehari-hari kurang baik, misalnya mereka sering berteriak walaupun hanya untuk meminjam pensil..

Guru itu berfikir, semestinya disiplin tersebut mereka pelajari dalam PPKn. Dia sendiri merasa telah mengajar disiplin dengan baik, terbukti dari hasil ulangan mereka dalam pokok bahasan disiplin bagus-bagus. Setelah melakukan identifikasi masalah, guru itu menyadari bahwa strategi pembelajarannya masih menekankan pada unsur pengetahuan saja, padahal untuk mengembangkan moral yang baik, diperlukan penghayatan terhadap nilai-nilai.

Guru itu memutuskan untuk melakukan PTK dengan menggunakan teknik-teknik klarifikasi nilai (value clarification techniques/VCT) sebagai cara pemecahan masalah.

(2) Seorang guru fisika menemukan bahwa murid-muridnya menemui kesulitan memahami sifat air. Murid tidak mampu membedakan volume air dalam wajan dengan air dalam tabung. Mereka selalu menganggap air dalam wajan lebih banyak karena permukaannya lebih lebar. Telah terjadi miskonsepsi dalam memahami sifat-sifat air. Jika Anda seorang guru fisika, apa yang Anda lakukan? Apakah cara Anda ini telah pernah diterapkan dalam kelas tersebut?

(3). Seorang guru melihat bahwa kelas yang diajarnya adem ayem saja. Padahal, berpartisipasi dalam kegiatan kelas seperti menjawab pertanyaan, mengajukan alasan, dan sebagainya sangat penting untuk meningkatkan pemahaman. Untuk mengatasi masalah ini, guru memutuskan menggunakan strategi-strategi belajar kooperatif (cooperative learning strategies) seperti Jigsaw dan Group Investigation untuk membuat murid lebih aktif.

5. Teknik Pengumpulan Dan Analisis Data

Berikut ini diberikan contoh-contoh instrumen pengumpul data dan beberapa cara menganalisisnya. Pada prinsipnya, dalam PTK pengumpulan data bersifat on-going, simultan dengan proses pembelajaran. Karena itu perlu diusahakan teknik pengumpulan dan analisis data yang sederhana dimana guru dapat melakukannya tanpa mengorbankan terlalu banyak waktu, tetapi tetap sesuai dengan kebutuhan.

Secara umum, pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan tes dan non-tes. Tes sudah secara luas kita kenal sebagai pengumpul data mengenai prestasi/hasil belajar. Tes hasil belajar dibedakan menjadi tes objektif dan tes esai. Bentuk tes objektif sangat beranekaragam, seperti pilihan ganda, benar-salah, isian, menjodohkan dan lain-lain. Namun disadari bahwa hasil belajar saja tidak cukup untuk memahami fenomena permasalahan yang dihadapi di kelas mengingat faktor-faktor lain juga terlibat didalamnya. Oleh karena itu, sangat penting digunakan instrument/alat pengumpul data lain sesuai dengan fokus permasalahan PTK yang diangkat. Beberapa contoh non-tes diberikan berikut ini.

Survei Sikap Siswa Terhadap Pelajaran (misalnya: Pokok Bahasan Optik (Fisika)

Nama:________________ Kelas:__________________ Tanggal:___________

Tulislah jawabanmu secara singkat namun jelas dalam selembar kertas.

  1. Dari pelajaran tentang Optik yang baru saja berlangsung, adakah hal-hal yang kamu sukai? Sebutkan, dan beri alasan kenapa kamu menyukainya.
  2. Adalah hal-hal yang tidak kamu sukai dari pelajaran tadi? Sebutkan dan beri alasannya.
  3. Yang manakah dari materi Optik itu yang paling mudah bagimu? Kenapa?
  4. Yang manakah yang paling sulit? Kenapa?
  5. Menurutmu, bagaimanakah caranya agar materi yang sulit itu, jadi mudah kamu pelajari?
  6. Apakah pelajaran tadi menyenangkan atau membosankan bagimu? Kenapa?
  7. Apa usulmu agar pelajaran menjadi lebih menyenangkan?

Catatan bagi guru: Pertanyaan-pertanyaan ini dapat juga digunakan bila guru lebih suka melakukan wawancara informal dengan siswa, daripada meminta mereka merespons dalam bentuk tulisan.

Survei Sikap Terhadap Membaca

Isilah tanda silang pada huruf a,b,c,d, atau e yang merupakan pilihan Anda yang paling tepat.

  1. Saya suka membaca cerita.

    a. sangat setuju b. setuju c. ragu-ragu d. tidak setuju e. sangat tidak setuju

2. Membaca bagi saya sangat membosankan.

a. sangat setuju b. setuju c. ragu-ragu d. tidak setuju e. sangat tidak setuju

3. Waktu-waktu luang saya isi dengan membaca.

a. sangat setuju b. setuju c. ragu-ragu d. tidak setuju e. sangat tidak setuju

4. Saya menemui kesulitan dalam memahami isi bacaan.

a. sangat setuju b. setuju c. ragu-ragu d. tidak setuju e. sangat tidak setuju

5. Saya suka berdiskusi mengenai isi suatu bacaan/buku.

a. sangat setuju b. setuju c. ragu-ragu d. tidak setuju e. sangat tidak setuju

6. Saya berharap lebih banyak waktu membaca di sekolah.

a. sangat setuju b. setuju c. ragu-ragu d. tidak setuju e. sangat tidak setuju

7. Saya yakin mendapat pengetahuan yang penting dari bacaan.

a. sangat setuju b. setuju c. ragu-ragu d. tidak setuju e. sangat tidak setuj

8. Saya suka membaca karena mendapat rasa senang dari situ.

a. sangat setuju b. setuju c. ragu-ragu d. tidak setuju e. sangat tidak setuju

Observasi Sistematis

Pada observasi sistematis, aspek-aspek yang dipantau telah ditentukan terlebih dahulu. Guru hanya memberikan cangking (tally) pada kolom tallies setiap kali suatu aspek tertampilkan dalam PBM.

KOMPONEN

ASPEK-ASPEK YG. DIOBSERVASI

TALLIES

BICARA GURU

1. Menghormati perasaan siswa

2. Memberikan pujian

3. Menerima gagasan siswa

4. Bertanya

5. Berceramah

6. Memberikan perintah

7. Memberikan kecaman

MURID BICARA

1. Karena ditanya/diperintah

2. Atas prakarsa sendiri

3. Bicara hal lain (off-task)

SENYAP

Teknik Analisis Data

Pada dasarnya, data dari suatu PTK dapat berbentuk deskripsi verbal maupun angka (numerik). Berikut ini secara sederhana diberikan bagaimana cara menganalisis data yang umum dikumpulkan dalam PTK.

(1). Data Numerik

Data numerik adalah skor berupa angka, misalnya nilai tes setelah tindakan berlangsung. Dari skor ini dihitung nilai rata-rata kelas, yaitu dengan cara menjumlahkan seluruh skor kemudian dibagi sebanyak siswa. Nilai rata-rata ini menunjukkan kemampuan umum kelas. Selanjutnya perlu pula dihitung persentase siswa yang belum mencapai target keberhasilan belajar (sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya oleh guru). Ini penting untuk melihat sejauhmana keberhasilan suatu tindakan dalam meningkatkan kemampuan siswa.

Data numerik lain adalah yang diperoleh dari kuesioner, misalnya sikap siswa terhadap pelajaran membaca. Skor sikap siswa dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu sikap positif, netral, dan negatif.

(2). Data Verbal

Data verbal boleh lisan (hasil wawancara) maupun tertulis (misalnya survei sikap). Analisis data verbal umumnya lebih sulit dan memakan waktu. Untuk data hasil wawancara, perlu ditabulasi dulu, yaitu ditulis.

Analisis data verbal biasanya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Tabulasi data (verbal lisan)
  2. Reduksi data (data-data yang tidak penting dibuang)
  3. Penentuan kategori/kelompok data
  4. Pemasukan data sesuai kelompoknya.
  5. Interpretasi data perkelompok.
  6. Interpretasi data seluruhnya.

Hasil analisis data ini merupakan bagian terpenting dalam melakukan refleksi, sebab dari hasil analisis dapat dilihat sejauhmana target telah tercapai, apa target yang belum tercapai, dan kendala-kendala yang terjadi. Berdasarkan ini peneliti akan menentukan apa yang akan dilakukan selanjutnya (pada siklus berikutnya).

6. Penutup

Pada dasarnya, upaya-upaya perbaikan pendidikan harus selalu dilakukan. PTK adalah salah satu upaya tersebut. Pengalaman guru-guru yang telah melakukan PTK menunjukkan bahwa mereka mendapat beberapa manfaat yang baik dari PTK itu. Sebagai suatu upaya yang sangat relevan dengan kepentingan perbaikan pembelajaran, maka seyogyanya PTK ini disambut dengan antusias oleh guru-guru. Bagi pemula, sebaiknya mulailah dengan masalah-masalah yang tidak terlalu luas. Penguasaan prosedur melakukan PTK sangat penting, dan ini hanya dapat diperoleh melalui latihan yang berkelanjutan (rule of practice). Pada akhirnya, diharapkan PTK ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan guru, suatu aspek yang menunjang profesionalismenya.

Peningkatan profesionalisme adalah suatu tantangan bagi guru. Diharapkan PTK dipandang sebagai penyedia lahan untuk menjawab tantangan tersebut. Naskah ini diharapkan dapat memberi bekal kepada guru dalam upaya mengisi tantangan tersebut.

REFERENSI

Hopkins, D. (1993). A Teacher’s Guide to Classroom Research. Philadelphia: Open University Press.

Kemmis, S. & McTaggart. R. (1988). The Actioan Research Planner. Melbourne: Deakin University.

McNiff, J. (1992) Action Research for Professional Development. London: Sage Publications.

Natawidjaja, R. (1998). Penelitian Praktis Untuk Perbaikan Pembelajaran. Makalah disampaikan dalam PCP PTk Proyek PGSM di Bogor.

Raka Joni, T. (1998). Penelitian Tindakan Kelas: Beberapa Permasalahan. Makalah disampaikan dalam Pelatihan Calon Pelatih (PCP) PTK PGSM di Bogor.

Tim Pelatih Proyek PGSM, (1999). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Proyek PGSM Depdikbud.

Stringer, E.T. (1999). Action Research 2Ed. London: Sage Publications.

Webb, G. (1996). ‘Becoming Critical of Action Research for Develompent’. Dalam Zuber-Skerritt, O. (Ed.). New Directions in Action Research. London: The Falmer Press.

Download Tulisan

Posted on September 30, 2009, in Tulisan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: