PENDIDIKAN TEKNOHUMANISTIK

PENDIDIKAN TEKNOHUMANISTIK

(Suatu Rangkaian Perspektif Dan Kebijakan Pendidikan Menghadapi Tantangan Global)

——————————————————————————

Oleh:

Prof. Dr. N DANTES

1.Pendahuluan

Ciri utama abad milinium ini adalah terjadinya globalisasi pada setiap aspek kehidupan. Globalisasi mengandung arti terjadinya keterbukaan, kesejagatan, dimana batas-batas negara tidak lagi menjadi penting. Salah satu yang menjadi trend dan merupakan ciri globalisasi adalah adanya persamaan hak. Dalam konteks pendidikan, persamaan hak itu tentunya berarti bahwa setiap individu berhak mendapat pendidikan yang setinggi-tingginya dan sebaik-baiknya tanpa memandang bangsa, ras, latar belakang ekonomi, maupun jenis kelamin. Dengan adanya kesamaan hak ini, terjadi kehidupan yang penuh dengan persaingan karena dunia telah menjadi sangat kompetitif. Karena itu, mau tidak mau setiap orang mesti berusaha untuk menguasai ilmu dan teknologi agar dapat ikut dalam persaingan.

Terkait dengan itu, pendidikan mesti dapat menjawab tantangan tersebut. Dengan kata lain, pendidikan harus menyediakan kesempatan bagi setiap peserta didik untuk memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sebagai bekal mereka memasuki persaingan dunia yang kian hari semakin ketat itu. Di samping kesempatan yang seluas-luasnya disediakan, namun yang penting juga adalah memberikan pendidikan yang bermakna (meaningful learning). Karena, hanya dengan pendidikan yang bermakna peserta didik dapat dibekali keterampilan hidup, sedangkan pendidikan yang tidak bermakna (meaningless learning) hanya akan menjadi beban hidup. Kehidupan ke depan adalah sangat berat, penuh tantangan dan kompetitif, dan untuk itu perlu penataan kehidupan dalam berbagai hal termasuk aspek pendidikan.

2. Pendidikan dan Pembentukan Karakter Bangsa

Sejak tahun 1920an Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara telah mengumandangkan pemikiran bahwa pendidikan pada dasarnya adalah memanusiakan manusia. Untuk itu suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya, tidak ada pendidikan tanpa dasar cinta kasih. Dengan demikian pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, serta menjadi anggota masyarakat yang berguna. Manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiannya dan mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Metode pendidikan yang paling tepat adalah sistem among yaitu metode pembelajaran yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Sementara itu prinsip penyelenggaraan pendidikan perlu didasarkan pada “Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani“.

Bila kita analisis pengalaman sejarah bangsa kita, pasang surutnya perkembangan bangsa kita, diperlukan usaha yang sangat serius untuk menata kehidupan bangsa dalam berbagai aspek. Menata kehidupan bangsa dalam berbagai aspeknya termasuk pendidikan adalah hal yang sangat mendesak untuk dilakukan, walaupun hal itu diketahui sulit. Pada hakekatnya proses penataan kembali itu diperlukan karena hadirnya sejumlah perubahan, yang beberapa diantaranya sangat fundamental dan tidak pernah diramalkan sebelumnya.

Dunia bergerak ke masa depan dengan dinamis, dan dalam proses itu banyak nilai masa lalu yang tidak tepat lagi dengan konteks perkembangan jaman. Hal ini disebabkan karena memang perubahan perkembangan masyarakat; dari masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan, dari masyarakat agraris ke masyarakat industri dan jasa, dari tipologi masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, juga berkembang dari masyarakat paternalistik ke masyarakat demokratis. Hal ini dapat menyebabkan sebagian masyarakat mengalami disorientasi nilai. Dalam tingkat tertentu hal tersebut juga mempengaruhi dunia pendidikan kita.

Sebagai masyarakat yang sebagian besar cenderung dalam tipologi tradisional, terkait dengan perubahan jaman tersebut, untuk bisa hidup harmonis dan bahagia dalam lingkungan dunia baru (global) ini, diperlukan hadirnya Neotradisional Norm yaitu nilai-nilai baru yang berakar pada nilai-nilai tradisional (asli) dan dalam perkembangan dan perubahan nilai dapat disebut dengan dynamic integrated norm yaitu suatu perubahan nilai yang dianut masyarakat tetapi masih bersumber dan terintegrasi dengan nilai aslinya yang bisa berupa nilai-nilai luhur bangsa yang merupakan puncak-puncak nilai bangsa, maupun berupa nilai yang bersumber dari kearifan lokal (local geneus).

Bila kita kaji beberapa referensi dalam kaitan dengan hal di atas, tampak jelas penggambaran adanya perubahan zaman yang sangat pesat. Seperti Nisbet (1997) telah menyodorkan sepuluh megatrent global yang akan terjadi ke depan yang terkenal dengan megatrent global melenium yang meliputi boom ekonomi global, renaisan dalam seni, sosialisme pasar bebas, gaya hidup global dan nasionalisme kultural, swastanisasi, kebangkitan tepi pasifik, dasawarsa kepemimpinan wanita, abad biologi, kebangkitan agama milinium, dan kejayaan individu. Sedangkan Rowan Gibson (1997) menyatakan tiga hal sehubungan dengan kehidupan ke depan yaitu : pertama, the road stop here ; yang esensinya menyatakan bahwa masa depan nanti akan sangat berbeda dari masa lalu, dan karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu. Kedua, new time call for new organizations, yang pada esensinya menyatakan bahwa dengan tantangan yang berbeda diperlukan bentuk organisasi/ institusi yang berbeda dengan ciri efisiensi yang tinggi, dan kecepatan bergerak. Ketiga, where do we go next; yang esensinya menyatakan bahwa, dengan berbagai perubahan yang terjadi, setiap organisasi, institusi, perlu merumuskan arah yang tepat yang ingin dituju. Peter Senge (1994) juga mengemukakan bahwa akan terjadi ke depan ini perubahan dari detail comlplexety ke dinamic complexity yang nantinya akan membuat interpolasi menjadi sulit. Perubahan terjadi akan sangat mendadak dan tidak menentu. Sedangkan Rossabeth Moss Kanter (1994) menyatakan masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran cosmopolitan dan setiap pelakunya disetiap bidang termasuk bidang pendidikan dituntut memiliki 4C yaitu : Concept, Competence, Conection, dan Confidance. Maka dari itu kedepan diperlukan pendidikan yang, di samping menguasai sain dan teknologi yang tinggi, harus didasarkan pada dasar pemahaman dan penguasaan nilai dan moral yang kokoh, yang dalam dunia pendidikan kita sebut dengan pendidikan
teknohumanistik.

Kesejahtraan material yang didapatkan oleh manusia dalam kehidupannya yang merupakan hasil oleh pikirnya dalam sain dan teknologi berdampak langsung pada kesejahtraan hidup manusia. Dengan hasil sain dan teknologi berbagai temuan didapatkan , jarak waktu dapat diperpendek, berbagai macam penyakit bisa ditanggulangi, teknologi informasi berkembang pesat dan lain sebagainya, menyebabkan hidup manusia makin meningkat. Kemudahan yang didapatkan tersebut tidak akan berarti apa-apa, apabila tidak didasari oleh nilai, etika dan moral yang kokoh dalam penggunaannya. Hal tersebut bisa akan menjadi bumerang pada manusia itu sendiri. Maka dari itu diperlukan dasar pemahaman yang kuat atas nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Sentuhan pendidikan mutlak perlu adanya, karena pendidikan adalah merupakan suatu proses pemanusiaan manusia, sehingga pendidikan merupakan wahana transpormasi budaya, dan pendidikan itu sendiri adalah budaya intingeble,merupakan social culture, dan juga merupakan dan mendukung culture system, sehingga kemajuan peradaban suatu masyarakat dapat diukur dari tinggi rendahnya kualitas lembaga-lembaga pendidikannya. Dalam kaitannya dengan itu dunia pendidikan kita dituntut berperan sebagai agen pembentuk peradaban bangsa, ia dituntut untuk dapat membentuk nilai-nilai modern yang tetap bercirikan Indonesia dengan berbagai kearifan lokalnya. Dan di banyak Negara termasuk Negara maju, pendidikan formal merupakan proses penting untuk nation and character building.

Untuk itulah pengaruh pendidikan moral dan etika (yang dapat diberikan secara terintegrasi maupun berdiri sendiri di pendidikan formal), dan di pendidikan informal maupun secara nonformal dimasyarakat adalah dominan kepada peserta didik, dan pelaksanaannya juga akan makin sulit. Seperti sering disaksikan sebagai tontonan oleh masyarakat luas dengan penuh keprihatinan merosotnya moral dan etika dipanggung politik dan ekonomi. Dengan luas dan terbukanya arus informasi melalui berbagai media baik tulis maupun elektronika, kegiatan para elit di panggung politik dan ekonomi memiliki pengaruh yang besar pada pendidikan moral dan etika yang merupakan unsur penting dalam pendidikan karakter generasi penerus. Martin Luther King Jr, mengatakan “Intelligence plus character, that is the true goal of education”.

Maka dari itu diperlukan pendidik (guru) yang berkemampuan mempersonafikasikan nilai-nilai etik kemanusiaan. Meskipun tidak berarti bahwa seorang pendidik adalah seorang malaikat, namun dinamika kehidupannya menunjukkan wajah ketulusan untuk membantu peserta didik.

3. Paradigma Pendidikan Masa Depan

Pendidikan berwawasan masa depan diartikan sebagai pendidikan yang dapat menjawab tantangan masa depan, yaitu suatu proses yang dapat melahirkan individu-individu yang berbekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk hidup dan berkiprah dalam era globalisasi.

Komisi Internasional bagi Pendidikan Abad ke 21 yang dibentuk oleh UNESCO melaporkan bahwa di era global ini pendidikan dilaksanakan dengan bersandar pada empat pilar pendidikan, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together (Delors, 1996). Dalam learning to know peserta didik belajar tentang pengetahuan yang penting sesuai dengan jenjang pendidikan yang diikuti. Dalam learning to do peserta didik mengembangkan keterampilan dengan memadukan pengetahuan yang dikuasai dengan latihan (law of practice), sehingga terbentuk suatu keterampilan yang memungkinkan peserta didik memecahkan masalah dan tantangan kehidupan. Dalam learning to be, peserta didik belajar secara bertahap menjadi individu yang utuh, memahami arti hidup dan tahu apa yang terbaik dan sebaiknya dilakukan, agar dapat hidup dengan baik. Dalam learning to live together, peserta didik dapat memahami arti hidup dengan orang lain, dengan jalan saling menghormati, saling menghargai, serta memahami tentang adanya saling ketergantungan (interdependency). Dengan terjadinya kerusakan lingkungan yang tak terkendalikan dewasa ini diberbagai belahan dunia, telah muncul pilar kelima dalam bidang pendidikan yaitu learning to live sustanabilies, yang memaknai bahwa melalui pendidikan kelangsungan hidup umat manusia dan dukungan alam yang harmonis dan berkesinambungan dapat diwujudkan. Dengan demikian, melalui pilar pendidikan ini diharapkan peserta didik tumbuh menjadi individu yang utuh, yang menyadari segala hak dan kewajiban, serta menguasai ilmu dan teknologi untuk bekal dan kelangsungan hidupnya serta kelestarian lingkungan alam tempat kehidupannya.

Dalam kaitan dengan itu, visi pendidikan nasional kita adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Terkait dengan visi tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip untuk dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan.

Salah satu prinsip tersebut adalah bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalah pergeseran paradigma proses pendidikan, yaitu dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran.

Paradigma pengajaran yang telah berlangsung sejak lama lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Seperti telah disebutkan pada pendahuluan , dewasa ini paradigma tersebut telah bergeser menuju paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Maka dari itu diperlukan suatu model pendidikan yang mampu mentranspormasikan bekal keintelekan dengan dasar keadaban yang kokoh, yang telah disebut di atas dengan Model Pendidikan Teknohumanistik. Pendidikan teknohumanistik berlandaskan pada tiga acuan dasar pengembangan pendidikan (di Indonesia) yaitu, acuan filosofis, acuan nilai kultural, dan acuan lingkungan strategis.

Acuan filosofis, didasarkan pada abstraksi acuan hukum dan kajian empiris tentang kondisi sekarang serta idealisasi masa depan. Secara filosofis obyek forma pendidikan adalah proses pemanusiaan manusia, sehingga harus memiliki karakteristik: (a) mampu mengembangkan kreativitas, kebudayaan, dan peradaban; (b) mendukung diseminasi dan nilai keunggulan, (c) mengembangkan nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan, keadilan dan keagamaan; dan (d) mengembangkan secara berkelanjutan kinerja kreatif dan produktif yang koheren dengan nilai-nilai moral, dan semua itu inheren dengan cita-cita pembentukan masyarakat Indonesia Baru, yakni apa yang disebut dengan masyarakat madani.

Pendidikan kita harus pula memiliki acuan nilai kultural dalam penataan aspek legal. Tata nilai itu sendiri bersifat kompleks dan berjenjang mulai dari jenjang nilai ideal, nilai instrumental, sampai pada nilai operasional. Pada tingkat ideal, acuan pendidikan adalah pemberdayaan untuk kemandirian dan keunggulan. Pada tingkat instrumental, nilai-nilai yang penting perlu dikembangkan melalui pendidikan adalah otonomi, kecakapan, kesadaran berdemokrasi, kreativitas, daya saing, estetika, kearifan, moral, harkat, martabat dan kebanggaan. Pada tingkat operasional, pendidikan harus menanamkan pentingnya kerja keras, sportifitas, kesiapan bersaing, dan sekaligus bekerjasama dan disiplin diri.

Acuan lingkungan strategis mencakup lingkungan nasional dan lingkungan global. Lingkungan nasional meliputi perubahan demografis termasuk didalamnya penyebaran penduduk yang tidak merata dan keberhasilan KB, pengaruh ekonomi yang tidak merata sehingga penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat, pengaruh sumber kekayaan alam yang pemanfaatannya membutuhkan pengelolaan yang baik, pengaruh nilai sosial budaya di era global ini, dimana munculnya nilai-nilai baru di masyarakat seperti kerja keras, keunggulan, dan ketepatan waktu, pengaruh politik yang sejak era reformasi terasa sangat labil, serta pengaruh ideologi dimana pendidikan ideologi perlu terkait dengan yang universal. Lingkungan nasional yang saat ini masih dalam situasi reformasi, bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Secara nasional acuan strategis ini mengandung arti bahwa pendidikan kita harus dapat menjawab tantangan reformasi dan membawa negeri ini kepada suatu kondisi secara aktual siap untuk bersaing.

Lingkungan global ditandai antara lain dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi sehingga kita tidak bisa menjadi warga lokal dan nasional saja, tetapi juga warga dunia. Lingkungan strategis sangat berpengaruh bagaimana pendidikan masa depan tersebut hendaknya dirancang. Dalam visualisasinya konsep pendidikan Teknohumanistik di atas, dapat digambarkan sebagai berikut.


Sebagai implikasi dari globalisasi dan reformasi tersebut, terjadi perubahan pada paradigma pendidikan. Perubahan tersebut menyangkut, pertama: paradigma proses pendidikan yang berorientasi pada pengajaran dimana guru lebih menjadi pusat informasi, bergeser pada proses pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran dimana peserta didik menjadi sumber (student center). Dengan banyaknya sumber belajar alternatif yang bisa menggantikan fungsi dan peran guru, maka peran guru berubah menjadi fasilitator. Kedua, paradigma proses pendidikan tradisional yang berorientasi pada pendekatan klasikal dan format di dalam kelas, bergeser ke model pembelajaran yang lebih fleksibel, seperti pendidikan dengan sistem jarak jauh. Ketiga, mutu pendidikan menjadi prioritas (berarti kualitas menjadi internasional). Keempat, semakin populernya pendidikan seumur hidup dan makin mencairnya batas antara pendidikan di sekolah dan di luar sekolah. Kelima, dengan makin berkembangnya pendidikan sain dan teknologi, dan demi kesejahtraan manusia dan lingkungan, maka pengembangan sain dan teknologi tersebut harus didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan.

Kondisi ini mengharuskan pendidikan menerapkan berbagai prinsip yang sangat mendasar seperti penerapan standar mutu sehingga kita bisa bersaing dengan dunia global, dan penggunaan berbagai cara belajar dengan mendayagunakan sumber belajar. Bila kita cermati ketiga acuan di atas merupakan dasar hukum dan operasional pengembangan pendidikan masa depan. Dalam pembangunan pendidikan ke depan ini, ketiga acuan tersebut merupakan dasar dalam mengembangkan cetat biru (blueprint) pendidikan nasional.

4. Prinsip-prinsip Pendidikan Teknohumanistik

Pendidikan teknohumanistik merupakan pendidikan yang mentranspormasikan sain-teknologi dan nilai-nilai keadaban yang didasarkan pada prinsip-prinsip dasar harkat kemanusiaan. Dalam pelaksanaannya pendidikan teknohumanistik mengacu pada pendidikan karakter yang efektif, yang prinsipnya adalah sebagai berikut :

  1. Pendidikan teknohumanistik hendaknya mengembangkan “Core Ethical Values” sebagai basis dari karakter kemanusiaan yang baik. Dasar pelaksanaan pendidikan teknohumanistik berawal dari prinsip-prinsip filosofi, yang secara obyektif menganggap bahwa nilai-nilai etika yang murni atau inti, seperti kepedulian, kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab, dan rasa hormat pada diri sendiri dan orang lain adalah sebagai basis daripada karakter yang baik, yang mendasari penguasaan sain dan teknologi yang makin kompleks.
  2. Karakter dan pendidikan teknohumanistik, harus didefinisikan secara komprehensif, termasuk pikiran, perasaan, dan perilaku. Dalam program pendidikan karakter sebagai inti pendidikan teknohumanistik yang umumnya menyentuh ranah kognitif, afektif, psikomotorik dan metakognitif mengandung makna yang lebih luas, dan akhirnya dapat menyangkut aspek perilaku dalam kehidupan moral. Pendidikan teknohumanistik berdasarkan pada penguasaan sain dan teknologi yang dilandasi dasar yang kokoh pada pemahaman, kepedulian tentang nilai-nilai etika dasar, dan tindakan atas dasar nilai-nilai etika yang inti.
  3. Dalam kaitan dengan pendidikan formal, pendidikan teknohumanistik yang efektif menuntut niat yang sungguh-sungguh, proaktif dan melakukan pendekatan komprehensif yang dapat memacu nilai-nilai inti pada semua tahap kehidupan sekolah. Sekolah-sekolah dalam melaksanakan pendidikan teknohumanistik, seyogyanya disorot melalui lensa moral dan lihat bagaimana sebenarnya segala sesuatu yang berpengaruh terhadap nilai-nilai di sekolah dan karakter para peserta didik.
  4. Sekolah harus menjadi “a caring community“. Sekolah itu sendiri harus menampakkan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang memiliki karakter yang baik. Hal ini harus dipacu untuk maju menjadi sebuah mikrokosmos bagi rakyat banyak, menjadi masyarakat yang mantap dan peduli serta kreatif. Sekolah dapat berbuat demikian dengan menjadikan sekolah sebagai masyarakat bermoral yang bisa menolong para peserta didik untuk membina rasa kasih sayang dan rasa hormat kepada orang tua, guru, dan orang lain.
  5. Untuk mengembangkan karakter, para peserta didik memerlukan kesempatan untuk berperilaku moral. Dalam tata susila seperti pada kawasan intelektual, para peserta didik menjadi pelajar yang konstruktif, mereka belajar dengan baik sambil bekerja. Untuk mengembangkan karakter, mereka memerlukan banyak kesempatan yang bervariasi untuk mengaplikasikan nilai-nilai, seperti tanggung jawab dan kejujuran pada interaksi dan diskusi-diskusi setiap hari.
  6. Pendidikan teknohumanistik yang efektif harus melibatkan kurikulum akademik yang menantang dan bermakna, yang memperhatikan semua peserta didik dan membantunya untuk mencapai hasil belajar. Pendidikan nilai (karakter) dan pengetahuan akademik harus disusun secara terintegrasi dan saling mendukung antara yang satu dengan yang lain.
  7. Pendidikan teknohumanistik hendaknya berupaya untuk mengembangkan motivasi instrinsik para peserta didik. Sebagai peserta didik yang sedang mengembangkan karakter yang baik, mereka harus membangkitkan kemauan kuat dari dalam batin sendiri untuk mengerjakan apa yang menurut pertimbangan moral mereka, adalah benar. Sekolah, khususnya dalam menggunakan pendekatan disiplin, harus berusaha untuk mengembangkan kemauan intrinsik terhadap nilai-nilai inti.
  8. Staf sekolah (kepala sekolah, guru-guru, dan pegawai) harus menjadi masyarakat belajar dan bermoral dalam mana semua bagian bertanggung jawab pada pendidikan karakter dan pendidikan yang berbasis nilai-nilai luhur kemanusiaan dan berusaha untuk mengikuti dengan setia nilai-nilai inti yang sama, yang dapat membimbing dan dipedomani oleh para peserta didik. Dalam hubungan ini, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, semua staf sekolah, guru-guru, administrator, konselor, pelatih, sekretaris, pekerja kantin, alat-alat permainan lapangan, semuanya harus dilibatkan dalam kegiatan belajar, diskusi-diskusi dan berbicara tentang usaha-usaha pendidikan nilai (karakter). Semua orang dewasa hendaknya menjadi model dari nilai-nilai inti dalam setiap perilakunya dan memberi manfaat pada kesempatan-kesempatan lain yang mereka miliki untuk mempengaruhi peserta didik, dengan siapa saja mereka bertemu. Kedua, nilai-nilai dan norma-norma yang sama yang membentuk kehidupan para peserta didik hendaknya terbentuk dalam kehidupan bersama dengan orang dewasa dalam masyarakat sekolah. Ketiga, sekolah hendaknya menemukan dan menjaga refleksi-refleksi staf pada masalah-masalah moral. Staf sekolah, melalui pertemuan-pertemuan atau rapat-rapat dengan dukungan kelompok-kelompok yang lebih kecil, harus secara reguler dilaksanakan.
  9. Pendidikan teknohumanistik meminta kepemimpinan moral dari staf dan para peserta didik. Para peserta didik hendaknya juga dibawa ke dalam peran-peran kepemimpinan moral melalui organisasi peserta didik, program-program penengahan terhadap konflik-konflik dalam kelompok teman sejawat, tutorial lintas usia dan lain-lain.
  10. Sekolah mesti melibatkan orang tua dan anggota-anggota masyarakat sebagai partner penuh dalam upaya pembentukan dan pengembangan nilai-nilai tentang harkat kemanusiaan peserta didik. Misi suatu pendidikan teknohumanistik harus menyebutkan secara benar dan nyata mengenai pengembangan sain dan teknologi yang sesuai dengan harkat kemanusiaan demi kesejahtraan manusia itu sendiri. Jadi dimensi aksiologi keilmuan harus dipegang teguh untuk hal ini. Sekolah (pendidikan formal) yang merupakan tempat stategis untuk mentranspormasikan sain dan teknologi, dan orang tua sebagai pendidik pertama dan terpenting bagi anak-anak harus bekerja sama saling bahu membahu. Kemudian, sekolah harus berusaha pada setiap tahap untuk berkomunikasi dengan orang tua tentang tujuan-tujuan sekolah dan kegiatan-kegiatan dalam rangka pengembangan pendidikan teknohumanistik, dan bagaimana keluarga dapat membantunya. Untuk membina kerjasama antara sekolah dan orang tua di rumah, maka sekolah hendaknya menjadi proaktif dalam melibatkan orang tua peserta didik dalam perencanaan dan pembuatan kebijakan.
  11. Penilaian pada pendidikan teknohumanistik hendaknya mengukur komitmen dan kondisi sekolah, berfungsinya staf sekolah sebagai pendidik-pendidik teknohumanistik dan diperluas pada penampilan karakter yang baik pada para peserta didik. Pendidikan teknohumanistik yang efektif harus mengupayakan untuk mengukur pengaruh program-program sekolah terhadap perkembangan moral peserta didik. Dalam kaitan ini, ada tiga bentuk yang perlu diperhatikan. Pertama, seberapa inten sekolah telah berfungsi sebagai “caring community“. Hal ini dapat diukur, misalnya dengan mengadakan survey, dengan meminta para peserta didik menunjukkan indikasi secara mendalam persetujui mereka dalam penunjukkan perilaku-perilaku seperti: “Para peserta didik dalam kelas ini memiliki rasa hormat dan penuh perhatian antara yang satu dengan yang lainnya”, dan “Kelas ini sebagai suatu keluarga”. Di samping itu, dapat juga dilakukan observasi sebagai alat yang berguna untuk mengukur karakter sekolah. Kedua, staf sekolah tumbuh sebagai pendidik karakter. Seberapa inten staf sekolah, guru-guru, administrator, dan pendukung personal lainnya telah mengembangkan pengertian-pengertian tentang apa yang mereka dapat kerjakan untuk memacu perkembangan nilai dan karakter peserta didik? Ketiga, karakter para peserta didik, seberapa inten para peserta didik menampakkan pengertian, komitmen, dan tindakan-tindakan atas dasar nilai-nilai etika inti? Untuk hal ini dapat dilakukan melalui sekolah, misalnya kumpulkan data tentang berbagai karakter yang berhubungan dengan perilaku-perilaku sebagai berikut: pernahkah para peserta didik terlambat datang ke sekolah dan apakah suka membolos? Terjadikah perkelahian antar peserta didik? Apakah vandalisme (suka merusak), cenderung menurun? Apakah insiden penyalahgunaan obat keras, telah berkurang?

C. Pendekatan Komprehensif dalam Pendidikan Teknohumanistik

Ada tiga dimensi tujuan yang tercakup dalam pendidikan teknohumanistik, yaitu penguasaan sain-teknologi, kebijakan dan kebaikan. Pendidikan untuk penguasaan sain-teknologi harus berdasar pada aksiologi keilmuan yaitu demi kemaslahatan dan kesejahtraan umat manusia. Pendidikan persekolahan (formal) yang terkait (matching) dengan aplikasi pada berbagai lapangan/sektor merupakan usaha yang strategis untuk pencapaian tujuan. Pendidikan tentang kebaikan merupakan dasar demokrasi. Pendidikan tentang nilai dalam rangka pembentukan karakter peserta didik perlu diefektifkan karena adanya berbagai pengaruh negatif yang dapat mempengaruhi perilaku peserta didik seperti kecenderungan perilaku menyimpang dari peserta didik. Memperhatikan adanya gejala-gejala negatif tersebut, nilai-nilai apakah yang perlu dibelajarkan? Dua buah nilai moral utama adalah “respect and responsibility” (rasa hormat dan tanggung jawab). Di samping itu ada sejumlah nilai yang dibelajarkan, antara lain: “honesty (kejujuran), fairness (keterbukaan), tolerance (toleransi), prudence (kehati-hatian), self-discipline (disiplin diri), helpfulness (membantu dengan tulus), compassion (rasa terharu), cooperation (bekerjasama), courage (keteguhan hati), and host of democratic values” (Lickona, 1991:43-45), yang pada akhirnya secara simultan akan membentuk karakter peserta didik.

Karakter, berkaitan dengan pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. Karakter yang baik terdiri atas pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan berbuat kebaikan, atau kebiasaan pikiran, kebiasaan perasaan dalam hati, dan kebiasaan berperilaku yang baik. Ketiga hal inilah yang menentukan kehidupan bermoral. Komponen-komponen karakter yang baik adalah seperti tercantum pada bagan berikut (Lickona, 1991: 53)


Dalam komponen “moral knowing” (pengetahuan moral) terdapat enam aspek, yaitu (1) kesadaran moral (kesadaran hati nurani). (2) Knowing moral values (pengetahuan nilai-nilai moral), terdiri atas rasa hormat tentang kehidupan dan kebebasan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keterbukaan, toleransi, kesopanan, disiplin diri, integritas, kebaikan, perasaan kasihan, dan keteguhan hati. (3) Perspective-taking (kemampuan untuk memberi pandangan kepada orang lain, melihat situasi seperti apa adanya, membayangkan bagaimana dia seharusnya berpikir, bereaksi, dan merasakan). (4) Moral reasoning (pertimbangan moral) adalah pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan bermoral dan mengapa kita harus bermoral. (5) Decision-making (pengambilan keputusan) adalah kemampuan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah-masalah moral. (6) Self-knowledge (kemampuan untuk mengenal atau memahami diri sendiri), dan hal ini paling sulit untuk dicapai, tetapi hal ini perlu untuk pengembangan moral.

Dalam komponen “moral feeling” (perasaan moral), terdapat enam aspek penting, yaitu (1) conscience (kata hati atau hati nurani), yang memiliki dua sisi, yakni sisi kognitif (pengetahuan tentang apa yang benar) dan sisi emosi (perasaan wajib berbuat kebenaran). (2) Self-esteem (harga diri), dan jika kita mengukur harga diri sendiri berarti menilai diri sendiri; jika menilai diri sendiri berarti merasa hormat terhadap diri sendiri. (3) Empathy (kemampuan untuk mengidentifikasi diri dengan orang lain, atau seolah-olah mengalami sendiri apa yang dialami oleh orang lain dan dilakukan orang lain). (4) Loving the good (cinta pada kebaikan); ini merupakan bentuk tertinggi dari karakter, termasuk menjadi tertarik dengan kebaikan yang sejati. Jika orang cinta pada kebaikan, maka mereka akan berbuat baik dan memiliki moralitas. (5) Self-control (kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri), dan berfungsi untuk mengekang kesenangan diri sendiri. (6) Humility (kerendahan hati), yaitu kebaikan moral yang kadang-kadang dilupakan atau diabaikan, pada hal ini merupakan bagian penting dari karakter yang baik.

Dalam komponen “moral action” (tindakan moral), terdapat tiga aspek penting, (1) competence (kompetensi moral), yaitu kemampuan untuk menggunakan pertimbangan-pertimbangan moral dalam berperilaku moral yang efektif; (2) will (kemauan), yakni pilihan yang benar dalam situasi moral tertentu, biasanya merupakan hal yang sulit; (3) habit (kebiasaan), yakni suatu kebiasaan untuk bertindak secara baik dan benar.

Bagaimanakah strategi untuk membelajarkan “respect and responsibility” (rasa hormat dan tanggung jawab) yang merupakan nilai-nilai moral utama? Licknona (1991) mengemukakan suatu konsep tentang “a comprehensive approach to moral values and character education” seperti pada bagan berikut (Lickona, 1991:69)


Dalam bagan di atas terkandung ide-ide yang komprehensif mengenai pendidikan karakter yang menjiwai Pendidikan Teknohumanistik, sebagi berikut.

  1. Pada umumnya pendidikan karakter mempunyai dua tujuan utama, yaitu membantu peserta didik menjadi bijak (smart) dan membantu mereka menjadi orang yang baik. Baik, dalam arti nilai-nilai moral yang seimbang, yakni nilai-nilai yang dapat memperkokoh martabat manusia dan mengembangkan kebaikan individu dan masyarakat. Dua nilai-nilai moral universal yang merupakan nilai-nilai inti dalam masyarakat umum dan yang secara moral dapat diajarkan adalah rasa hormat dan tanggung jawab.
  2. Sekolah sebagai lembaga sosial diharapkan dapat membentuk karakter dengan menggunakan strategi pendekatan komprehensif, yang meliputi semua pendekatan terhadap pendidikan nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan sekolah untuk mencapai pengembangan karakter. Pendekatan tersebut meliputi 12 strategi di dalam kelas dan di luar kelas. Yang termasuk pendekatan komprehensif di dalam kelas adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan kegiatan pendidik (guru), antara lain sebagai berikut.

    (1) Aktivitas guru sebagai pemberi rasa hormat dan cinta, sebagai model dan sebagai mentor yang berinteraksi dengan peserta didik dengan cinta dan rasa hormat , menjadi contoh yang baik, menunjukkan perilaku yang prososial, dan berperilaku hati-hati dan cermat.

    (2) Menciptakan kelas sebagai masyarakat yang bermoral, membantu peserta didik untuk saling mengenal satu sama lainnya, rasa hormat dan penuh perhatian antara yang satu dengan yang lainnya, dan merasakan setiap anggota bernilai di dalam kelompok.

    (3) Praktikkan atau terapkan disiplin moral, ciptakan dan laksanakan aturan-aturan dalam berbagai kesempatan untuk memacu pemikiran moral, laksanakan pengendalian diri, dan menggeneralisasi perhatian dan hormat kepada orang lain.

    (4) Ciptakan lingkungan kelas yang demokratis, libatkan peserta didik dalam pengambilan keputusan dan berikan tanggung jawab untuk membuat kelas sebagai tempat yang baik untuk belajar.

    (5) Ajarkan nilai-nilai melalui kurikulum, gunakan subjek akademik sebagai wahana untuk menguji isu-isu kesusilaan (etika)

    (6) Gunakan cara belajar kooperatip untuk mengajar peserta didik tentang karakter dan keterampilan-keterampilan untuk saling membantu dan bekerjasama.

    (7) Kembangkan kesadaran tentang keahlian keterampilan dengan memacu tanggung jawab akademik pada para peserta didik dan kembangkan rasa hormat mereka terhadap nilai dari belajar dan bekerja.

    (8) Bangkitkan refleksi moral mereka melalui membaca, menulis, berdiskusi, latihan pengambilan keputusan, dan berdebat dalam diskusi.

    (9) Ajarkan cara-cara pemecahan konflik, dengan demikian peserta didik akan memiliki kemampuan dan komitmen untuk memecahkan konflik-konflik secara terbuka dan jujur, dan tidak dengan kekerasan.

    (10) Pendekatan komprehensif yang berkenaan dengan aktivitas-aktivitas sekolah harus diarahkan kepada kegiatan untuk belajar membaca lebih giat, pemeliharaan kondisi kelas dengan menggunakan model-model dan kesempatan-kesempatan bagi pelayanan sekolah dan masyarakat untuk membantu peserta didik untuk belajar memperhatikan serta memelihara suasana kelas.

    (11) Ciptakan budaya moral positif di sekolah, kembangkan seluruh lingkungan sekolah (melalui kepemimpinan kepala sekolah), memperluas disiplin sekolah, memperluas rasa kemasyarakatan di sekolah, ciptakan organisasi yang demokratis, ciptakan suasana bermoral di antara kelompok orang dewasa, dan sediakan waktu untuk memperlihatkan perilaku moral.

    (12) Ajaklah orang tua dan anggota masyarakat sebagai partner dalam pendidikan nilai-nilai, dukung orang tua sebagai pendidik moral pertama dan utama bagi anak-anaknya, doronglah orang tua untuk mendukung sekolah dalam melakukan usaha-usaha untuk memacu meningkatkan nilai-nilai yang baik, dan gunakan bantuan masyarakat (seperti pemuka-pemuka agama, kalangan pengusaha, dan media massa) dalam mengembangkan nilai-nilai yang akan diajarkan di sekolah.

    Dalam hubungan dengan pendidikan karakter ini, William J. Bennett (Ed., 1997) dalam bukunya berjudul: “The Book of Virtues: A Treasury of Great Moral Stories” mengemukakan bahwa dalam pendidikan moral, pendidik perlu mengajarkan tentang nilai-nilai moral seperti: rasa hormat kepada orang tua dan guru, jujur, terbuka, toleransi, adil, religius, bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara, serta memiliki rasa kasih sayang dan cinta terhadap Tuhan, masyarakat, dan lingkungan. Dengan menggunakan ilustrasi ceritra-ceritra, Bennett mengungkapkan beberapa cara untuk mengembangkan karakter yang baik, antara lain sebagai berikut.

    1. Self-discipline (disiplin diri) perlu ditanamkan pada peserta didik, para pendidik/guru, para pelatih, pembimbing, dan pada semua komponen yang terkait dengan kegiatan proses pembelajaran.
    2. Compassion (rasa terharu) yang disertai rasa kasih. Di samping disiplin diri, kita sering menyaksikan adanya rasa keterharuan, yang kadang-kadang menutup hati atau kesadaran moral. Bagaimana caranya untuk meningkatkan rasa kasihan kepada orang lain pada peserta didik? Dalam hal ini, berikanlah merka ceritra-ceritra dan pribahasa yang bermanfaat sebanyak mungkin.
    3. Responsibility (tanggung jawab). Orang yang tidak bertanggung jawab adalah suatu ciri bahwa orang itu belum matang, sebaliknya adanya rasa tanggung jawab adalah ciri kematangan seseorang. Jika kita berupaya untuk membantu peserta didik menjadi orang yang bertangung jawab, maka sesungguhnya kita membantu mereka menjadi matang.Tanggung jawab, dan upaya untuk menjadi bertanggung jawab, harus menggunakan kekuatan yang ada pada setiap orang; dan setiap orang harus melakukannya terus-menerus.
    4. Friendship (persahabatan). Ceritra-ceritra mengenai persahabatan yang baik merupakan paradigma moral bagi semua hubungan antar manusia.Pengertian persahabatan ini lebih luas daripada kenalan dan di dalamnya termasuk lebih luas dari afeksi.
    5. Work (pekerjaan), apa yang harus dikerjakan supaya kita meningkat? Ini pertanyaan yang menyangkut pekerjaan, dan sekaligus pertanyaan yang menyangkut kehidupan.
    6. Courage (keberanian dan keteguhan hati).Di samping bekerja, menghayati dan menikmati makna kerja bagi kehidupan manusia, perlu menanamkan keberanian dan keteguhan hati atau ketekunan dalam menghadapi perasaan takut, sifat ragu-ragu, gugup, bimbang, dan sifat-sifat lainnya yang sering mengganggu.
    7. Perseverance (ketekunan), perlu dibina terus. Bagaimana caranya mendorong peserta didik supaya tekun dan tetap melaksanakan usaha-usaha untuk meningkatkan keberanian dan ketekunannya sendiri? Dalam hal ini, peserta didik harus melaksanakan sendiri, dan orang tua/pendidik berada bersama-sama mereka, serta mengawasi dari belakang (Tut Wuri Handayani), dengan membimbing dan mengarahkan serta memberikan contoh-contoh yang positif.
    8. Honesty (kejujuran). Supaya bisa menjadi orang jujur, berbuatlah secara nyata, secara murni, dan bisa dipercaya. Kejujuran ini bisa diwujudkan atau diekspresikan dalam bentuk rasa hormat kepada diri sendiri dan pada orang lain. Hal ini perlu dilatih dan dipelajari sepanjang hidup supaya menjadi orang yang memiliki integritas dan kemauan yang mulia.
    9. Loyalty (loyalitas). Faktor kejujuran harus diiringi dengan prinsip loyalitas, sehingga persahabatan dan hubungan-hubungan antar manusia bisa diterima dengan baik. Loyalitas atau kesetiaan berkaitan dengan hubungan kekeluargaan, persahabatan, afiliasi keagamaan, kehidupan profesional dan lain-lain, yang kesemuanya itu dapat berubah atau berkembang.
    1. Faith (keyakinan/kepercayaan). Hal terakhir yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah keyakinan atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa/Ida Sang Hyang Widi Wasa. Hal ini merupakan dimensi yang sangat penting yang merupakan sumber moral manusia.

D. Metode Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Teknohumanistik

Menurut Sommers (1993) dalam artikelnya yang berjudul: “Teaching the Virtue, a Blueprint for Moral Education”, bahwa salah satu metode penting dalam pendidikan moral adalah metode “values clarification” (klarifikasi nilai). Dengan menggunakan metode ini, pendidik/guru tidak secara langsung menyampaikan kepada peserta didik tentang “benar” atau “salah”, tetapi sebaliknya peserta didik harus diberikan kesempatan untuk menyatakan nilai-nilai dengan caranya sendiri. Lebih lanjut disarankan, bahwa (1) sekolah harus memiliki aturan-aturan tingkah laku yang menekankan pada kesopanan, kebaikan-kebaikan, disiplin diri, dan kejujuran; (2) pendidik/guru-guru jangan mengindoktrinasi peserta didik, jika mereka minta dengan tegas atas dasar kesopanan, kejujuran, dan keterbukaan; (3) peserta didik harus diberikan ceritra-ceritra yang menekankan pada prinsip-prinsip kebaikan, dan para peserta didik hendaknya gemar membaca, mempelajarai dan mendiskusikan tentang isu-isu moral. Dalam kaitan ini, para pendidik harus membantu peserta didik agar mengenal nilai-nilai moral yang diwariskan melalui literatur, internet, agama, dan filsafat. Hal ini penting karena hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan dapat dipikirkan dan dipelajari melalui pendidikan moral.

Selanjutnya, Alfie Kohn (1991) dalam artikelnya yang berjudul: “The Role of School”, antara lain menyebutkan bahwa untuk membantu peserta didik supaya bisa tumbuh menjadi dewasa, kepada mereka harus ditanamkan nilai-nilai disiplin sejak dini melalui proses interaksi antar peserta didik, dengan guru-guru, dan orang tua. Melalui interaksi dengan teman sejawat, dengan guru-guru, orang tua, pembuat kebijakan dan lain-lain, akan dapat ditumbuhkan nilai-nilai prososial. Dalam hubungan ini dapat digunakan diantara empat pendekatan untuk mengubah perilaku dan sikap, sebagai berikut: (1) funishing (menghukum), (2) bribing (menyogok/menyuap), (3) encouraging commitment to values (mendorong komitmen terhadap nilai).

Penggunaan hukuman dengan kekerasan merupakan cara yang tidak efektif dan bahkan menyebabkan situasi menjadi lebih buruk, karena hukuman akan menimbulkan perlawanan dan kemarahan. Oleh karena itu, penggunaan hukuman ini harus benar-benar selektif dan tidak berupa hukuman fisik. Seperti yang diungkapkan oleh Gordon (1989), bahwa selama usaha kita untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan nilai-nilai yang baik, maka penggunaan hukuman kekerasan tidak diperkenankan. Selanjutnya, pendekatan dengan ‘bribing’ atau menyogok/menyuap, yang merupakan
reward (hadiah), memang belum diketahui secara pasti efektivitasnya, mana lebih efektif antara hadiah dn hukuman. Hadiah ini hanya bersifat merangsang motivasi ekstrinsik, pada hal yang lebih penting adalah membangkitkan motivasi intrinsik.

Setelah mempertimbangkan keterbatasan dari hukuman dan hadiah, kini sampailah kepada pendekatan yang dipandang lebih baik, yakni pendekatan yang mendorong komitmen terhadap nilai-nilai. Tujuan guru/pendidik tidak hanya untuk membangkitkan perilaku yang baik, tetapi juga untuk membantu peserta didik untuk melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang baik dan bertanggung jawab serta memiliki disiplin yang kuat. Bagaimana caranya untuk meningkatkan komitmen kelompok terhadap nilai-nilai? Dalam kaitan ini, bukan saja bertujuan untuk menginternalisasi nilai-nilai yang baik di dalam masyarakat, tetapi juga untuk menginternalisasi nilai-nilai yang lainnya. Dengan demikian, sesungguhnya para pendidik menginginkan supaya dapat mengantarkan peserta didik menjadi orang yang baik, dapat menciptakan norma-norma secara bertanggung jawab terhadap apa yang mereka yakini, katakan, kerjakan, dan bagaimana caranya berhubungan dengan para peserta didik, dan bagaimana caranya mendorong peserta didik untuk saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain.

Untuk memupuk “selflessness’ atau “mutualy” (rasa kebersamaan), yakni suatu kebutuhan untuk mengadakan pertalian interpersonal, sangat diperlukan adanya keterlibatan orang tua secara persuasif (Etzioni, 1983). Rasa kebersamaan akan terwujud, jika setiap orang memperhatikan perilakunya dalam konteks kelompok budaya yang lebih luas, dimana ia berfungsi. Hal yang sangat penting bagi pendidik adalah bahwa hal itu akan muncul jika dipelajari sejak masa kanak-kanak sebagai akibat dari proses interaksinya berkali-kali dengan orang tua mereka. Dalam hubungan ini, perlakuan orang tua tidak boleh keras, tetapi harus sebagai model yang tidak agresif. Tujuan pendidik dan orang tua adalah mengantarkan anak-anak supaya menjadi disiplin. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi model yang bisa ditiru, dan masyarakat juga harus memberikan dorongan bagi munculnya perilaku disiplin pada anak-anak. Dalam kaitan dengan pembentukan disiplin diri, para pendidik/guru dapat melakukan hal-hal berikut: (1) para guru harus menggunakan teknik-teknik disiplin yang dapat mendorong tanggung jawab personal, (2) para guru sedapat mungkin harus menghindari penggunaan hukuman, (3) para guru harus menyadari kualitas perhatian terhadap peserta didik dan bekerja untuk menciptakan hubungan-hubungan yang baik dengan peserta didik, dan (4) para guru dan para administrator harus menciptakan hubungan yang kuat dengan orang tua peserta didik (Lisley, 1996:677). Dengan demikian jelaslah bahwa dalam pembinaan disiplin, tanggung jawab, dan rasa kebersamaan pada peserta didik, maka orang tua/pendidik harus menjadi model yang baik, dan masyarakat bertanggung jawab untuk mendorong berkembangnya perilaku disiplin. Orang tua harus menekankan pada konsekuensi tindakannya sehingga harus menghindari penggunaan hukuman dengan kekerasan dan pendidikan pada anak-anak harus didasarkan pada tanggung jawab dan cinta kasih bersama.

Demikianlah secara garis besar prinsip-prinsip umum dalam pelaksanaan pendidikan karakter yang menjiwai pendidikan teknohumanistik yang perlu dipahami, dihayati, dan dilaksanakan oleh pendidik/guru. Semua komponen dan aspek yang mendukung pembentukan karakter yang baik, perlu dimiliki oleh guru yang profesional, sebelum mengajarkan atau memberikan contoh tentang pikiran, perasaan, dan perilaku moral yang baik kepada peserta didik.

Menyimak berbagai uraian di atas, satu hal yang sangat penting direnungkan dan diresapi oleh penyelenggara pendidikan, adalah kearifan dalam menyikapi berbagai perubahan dan inovasi tersebut, sehingga tidak timbul kesan kaget, bahkan asing terhadap perubahan-perubahan itu, sebab it’s not a complete change, but a modification.

DAFTAR PUSTAKA

Aronfreed, J.& Reber, A. (1965). Internalized Behavioral Supression and The Timing of Social Punishment. Journal of Personality and Social Psychology, 1, 3-16.

Bennett, William J. (Ed., 1997). The Book of Virtues for Young People: A Treasury of Great Moral Stories. New York: Simon & Schuster.

Buchori, M., (2000). Pendidikan Antisipatoris. Jakarta: Gramedia.

Brown, A.L. (1975). The Development of Memory: Knowing, Knowing about Knowing, and Knowing How to Know. In: H.W. Reese (Ed.). Advances in Child Development and Behavior. (Vol.10). New York: Academic Press.

Benninga, J. (1991). Moral Character and Civic Education in the Elementary School. Nership: Teachers College Press.

Delors, J. (1996). Learning: The Treasure Within. France: UNESCO Publishing

Delors, J. et al. (1996). Learning the Treasure Within, Education for the 21th

Century.New York : UNESCO.

Deming, Edwards W. American Association of School Administrators Conference, Washington, DC, January 1992. Seperti dikutip oleh Lee Jenkins. Improving Student Learning. Applying Deming Quality Principles in Education. Milwaukee,WI: ASOQ Press

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta. 2003.

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. 2005.

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta. 2005.

Dienstbier, R.A. 1984). The Role of Emotion in Moral Socializaion. In: Izard, J. Kagan & R.B. Zajonc (Ed.). Emotions, Cognitions, and Behavior. New York: Cambridge University Press.

Etzioni, Amitai. (1997).Children Learn What They Live. The Washington Post National Weekly. Edition January 13, 1997.

Gordon, Thomas. (1989). Teaching Children Self-Disciplin. New York:Times Books.

Heath, D. (1994). School of Hope: Developing Mind and Character in Today’s Youth. San Fransisco: Jossey-Bass.

Henry, R. (1983). The Psychodinamic: Foundation of Morality. New ork: Basel.

Huffman, H. (1994). Developing a Character Education Program. Alexandria: VA, Character Education Part.

Jalal, F. & Supriadi, D., (2001). Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicipta Karya Nusa.

Kieman, Louise. (1997). Teaching More than Book Smart. Chicago Tribune Magazine, Pebruay 18, 1997, p.5.

Koyan, I.W. (2000). Pendidikan Moral: Pendekatan Lintas Budaya. Jakarta: Proyek PGSM, Ditjen Dikti.

Koyan, I.W. (2004). Pendidikan Karakter: Suatu Pendekatan Komprehensip.


Makalah.

Kohn, Alfie. (1991). Caring
Kids: The Role of The School. California: Phi Delta

Kappa.

Kilpatrick, W. (1992). Why Johnny Can’t Tell Right from Wrong. New York: Simon and Schuster.

Lickona, T. (1996). Eleven Principles of Effective Character Education. Journal of Moral Education.1, 1996, pp.93-94.

Loehrer, Michael C. (1998). How to Change a Rottern Attitude; A Manual for Building Virtue and Character in Middle and High School Students. California: Corwin Press. A Sage Publications Company.

Lasley, T.J. (1996). Teaching Selflessness in A Selfish Society. Ohio State University: Phi Delta Kappa.

Mosher, R.L. (1980). Moral Education: A First Generation of Research and Development. New York: Praeger Publishers.

Rest, J.R. (1994). Moral Development in Professions: Psychology and Applied Ethics. New Jersey: Lawrense Erlbaum Associates Publishers.

Rosen, Louis. (1997). School Discipline: Best Practice for Administrators. California: Corwin Press. A Sage Publications Company.

Rusnack, Timothy, (Ed). (1998). An Integrated Approach to Character Education. California: Corwin Press, Inc. A Sage Publications Company..

Sichel, B.A. (1988). Moral Education: Character, Community, and Ideals. Philadelphia: Temple University Press.

Semiawan, C.,(1997). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Grasindo.

Sommers, Ch. H. (1993). Teaching Te Virtues: A Blueprint for Moral Education. Chicago Tribune Magazine, September 12, 1993.

Syarief, I. & Murtadlo, D., (2002). Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru. 70 Tahun H.A.R.Tilaar. Jakarta : Grasindo.

Download Tulisan

Posted on September 30, 2009, in Tulisan. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. ni nengah supleg handayani

    Selamat pagi Pak.Terimakasih atas termuatnya tulisan ini di media ini,karena sangat membantu jalan pikiran saya untuk lebih bersemangat lagi menyelesaikan tesis saya.Untuk sementara saya belum sempat berkomentar.

    • ni nengah supleg handayani

      Selamat pagi,Pak.Kalau sempat,tolong Bapak menulis tentang pengakuan /penghargaan bagi MULTI kecerdasan yang dimiliki oleh anak bangsa kita.Apa yang seharusnya dilakukan oleh stikholder pendidikan di Indonesia,termasuk apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat luas untuk mewujudkannya.Maaf bukan maksud memerintah,namun mohon pertolongan Bapak agar bangsa ini lebih cepat mendapatkan apa yang kita harapkan bersama.Permohonan ini didasarkan atas keahlian/profesionalisme Bapak dalam hal pendidikan Suksma.

  2. what is a great seminar today. thank you sir for visiting and wanna be one of our supervisor for developing ISI Denpasar. Say my hello to prof. Komang Tantra.

  3. Artikel yang menarik pak…, menambah 1 lagi istilah bagi saya..tekhnohumanistik..

  4. TERIMAKASIH BAPAK ATAS MAKALAHNYA, KAMI SUDAH MENDOWNLOADNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: