SISTEM KREDIT SEMESTER (SKS) DAN PEMBIMBING AKADEMIK (PA) DALAM KAITANDENGAN IMPLEMENTASI RINTISAN SEKOLAH KATAGORI MANDIRI (SKM)

SISTEM KREDIT SEMESTER (SKS) DAN

PEMBIMBING AKADEMIK (PA) DALAM KAITAN

DENGAN IMPLEMENTASI RINTISAN

SEKOLAH KATAGORI MANDIRI (SKM)

************************

Oleh: Nyoman Dantes

************************

1. Pengantar


Dalam pembaharuan sistem pendidikan nasional telah ditetapkan visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Visi pendidikan nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia, berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Terkait dengan visi tersebut telah ditetapkan serangkaian prinsip yang dijadikan landasan dalam pelaksanaan reformasi pendidikan.

Salah satu prinsip tersebut adalah bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Prinsip tersebut menyebabkan adanya pergeseran paradigma proses pendidikan, dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran.

Paradigma pengajaran yang telah berlangsung sejak lama lebih menitikberatkan peran guru dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Paradigma tersebut bergeser pada paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki kecerdasan, memiliki estetika, sehat jasmani dan rohani, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan berdasarkan pergeseran paradigma tersebut, diperlukan acuan dasar bagi setiap satuan pendidikan yang meliputi serangkaian kriteria (kriteria minimal) sebagai pedoman untuk kendali mutu yang bersifat demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas dan dialogis.

Dengan mengingat kebhinekaan budaya, keragaman latar belakang dan karakteristik peserta didik ( sebagai masukan) dalam sistem pembelajaran, dan di sisi lain adanya tuntutan agar proses pembelajaran mampu menghasilkan lulusan yang bermutu,
maka proses pembelajaran harus dipilih, dikembangkan, dan diterapkan secara luwes dan bervariasi dengan memenuhi kriteria standar.

Pada jalur pendidikan formal proses pembelajaran lebih banyak terjadi dalam lingkungan kelas dengan sejumlah peserta didik di bawah pembinaan seorang guru, dan lazim disebut sebagai kelas klasikal. Kelas klasikal ini sering disalah artikan sebagai kelas konvensional yang menganggap peserta didik dalam satu kelas sebagai kelompok homogin, sehingga dapat diperlakukan secara sama untuk memperoleh hasil yang sama. Perlakuan yang seharusnya adalah bahwa peserta didik merupakan kelompok heterogin yang terdiri atas pribadi-pribadi yang mempunyai karakteristik, kondisi dan kebutuhan yang berbeda, sehingga oleh karena itu perlu mendapat perlakuan sedemikian rupa sehingga potensi masing-masing pribadi tersebut dapat berkembang secara optimal., Pemberdayaan peserta didik agar mereka mampu untuk membangun diri sendiri berdasarkan rangsangan yang diperolehnya sesuai dengan taraf perkembangan psikis, fisik dan sosial memerlukan interaksi aktif antara guru dengan peserta didik, antar peserta didik, dan antara peserta didik dengan lingkungan, dalam suasana yang menyenangkan dan menggairahkan, serta sesuai dengan kondisi dan nilai-nilai yang ada dalam ling-kungannya.

Tidak ada satupun model proses pembelajaran yang berlaku untuk setiap matapelajaran di dalam kelas dengan peserta didik yang beragam. Untuk itu semua guru harus mampu memilih, mengembangkan dan menerapkan proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mata kuliah, karakteristik peserta didik, serta kondisi dan situasi lingkungan. Hal ini menunjukkan posisi penting proses pembelajaran dalam menghasilkan lulusan yang bermutu. Untuk itu, betul-betul diperlukan guru yang profesional., maka dari itu pendidikan dan pelatihan pada calon guru untuk mencapai tujuan tersebut harus dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh, sehingga mampu menterjadikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Mengingat bahwa pendidikan itu merupakan suatu sistem dengan komponen-komponen yang saling berkaitan, maka keseluruhan sistem harus sesuai dengan ketentuan yang diharapkan atau standar. Untuk itu masing-masing komponen dalam sistem harus pula sesuai dengan standar yang ditentukan bersama. Dalam UU SPN RI No.20/2003 dan PP 19/2005 ditentukan delapan standar mutu yang harus dipenuhi oleh setiap satuan pendidikan, yaitu menyangkut : (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.
Keterkaitan antara standar tersebut dapat divisualisasi sebagai berikut :


Gambar 1: Keterkaitan antara Aspek-Aspek Standar Mutu

Salah satu implikasi dari penetapan standar pendidikan tersebut, adanya keperluan untuk melakukan pemetaan (pengkatagorian) sekolah khususnya SMA berdasarkan tingkat pemenuhan Standar Nasional Pendidikan. Pengkatagorian tersebut dapat dilakukan dalam : katagori standar, mandiri dan bertaraf internasional (BI), keunggulan lokal. Aturan mengenai hal tersebut belum dikeluarkan oleh BSNP, dan sambil menunggu aspek legal, Ditjen Manajemen Dikdasmen, mengambil langkah awal penerapan kebijakan standar nasional pendidikan (SNP), mengembangkan konsep : Sekolah Katagori Standar, Sekolah Katagori Mandiri, dan Satuan Kredit Semester untuk SMA. Sedangkan untuk penerapannya dirintis Sekolah Katagori Mandiri.

Dalam kaitan dengan rintisan SKM, delapan SNP di atas minimal diwujudkan dalam hal sbb :

a. Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dimaksudkan sekolah memiliki dokumen KTSP yang memuat komponen yang dipersyaratkan dan telah disahkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi. Penyusunan KTSP dilakukan secara mandiri oleh sekolah berdasarkan tujuh prinsip pengembangan kurikulum dan acuan operasional penyusunan KTSP ( yaitu, berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya, beragam dan terpadu, tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, relevan dengan kebutuhan kehidupan, menyeluruh dan berkesinambungan, belajar sepanjang hayat, seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah). Sedangkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) sesuai dengan SI dan SKL nya adalah minimal 75 %.

b. Standar Proses, dalam kaitan ini dimaksudkan sekolah mempunyai perencanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana, melaksanakan penilaian dengan berbagai cara, melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap seluruh proses pendidikan yang terjadi di sekolah untuk mendukung pencapaian standar kompetensi lulusan. Sekolah menerapkan sistem kredit semester (SKS).

c.Standar Pengelolaan, dalam kaitan ini dimaksudkan sekolah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas. Untuk mendukung penerapan MBS sekolah memiliki/telah mengembangkan berbagai aturan untuk menjamin ketertiban sekolah dalam melaksanakan program-programnya.

d. Standar Sarana, dalam kaitan ini dimaksudkan sekolah memiliki seluruh kebutuhan sarana prasarana, mendayagunakan dan memanfaatkannya secara optimal didukung sistem perawatan dan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan.

e. Standar Ketenagaan, dalam kaitan ini dimaksudkan sekolah memiliki tenaga guru dan tenaga kependidikan yang memenuhi kualifikasi jabatan/profesi yang diemban dan dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional.

f. Standar Pembiayaan, dalam kaitan ini dimaksudkan sekolah dapat membiayai seluruh kegiatan pendidikan di sekolah dengan memanfaatkan berbagai sumber pembiayaan, yang dapat digali oleh sekolah.

g. Standar Penilaian, dalam kaitan ini dimaksudkan hasil belajar siswa diperoleh melalui kegiatan penilaian yang dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Penilaian hasil belajar aspek kognitif pada kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dilakukan melalui ujian nasional. Penilaian hasil belajar aspek kognitif dan/atau psikomotor pada kelompok mata pelajaran agama dan Akhlak Mulia, kelompok pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian, kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi yang tidak diujikan pada ujian nasional, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan dilakukan oleh satuan pendidikan melalui ujian sekolah. Penilaian hasil belajar aspek afektif pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan dilakukan melalui pengamatan oleh pendidik yang nilai akhir ditentukan melalui sidang dewan pendidik. Untuk mengetahui pencapai belajar siswa pada ujian nasional dan ujian sekolah beserta persiapan yang dilakukan siswa, guru, dan sekolah dalam menghadapi ujian dilakukan pemantauan.

2. Profil Sekolah Katagori Mandiri (SKM)

Sekolah Katagori Mandiri, merupakan sekolah yang mampu mengoptimalkan pencapaian tujuan pendidikan, potensi dan sumberdaya yang dimiliki untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi peserta didik sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas. Persyaratan minimal yang harus dipenuhi yaitu :

a. Dukungan internal, yang meliputi : (1) kinerja sekolah (terakreditasi A, rerata nilai UN tiga tahun terakhir 7 , persentase kelulusan UN tiga tahun terakhir 90 %, animo tiga tahun terakhir > dari daya tampung, prestasi akademik dan nonakademik yang dicapai (teridentifikasi), melaksanakan manajemen berbasis sekolah, jumlah siswa per-klas maksimal 32 orang, ada pertemuan rutin pimpinan dengan guru, ada pertemuan rutin sekolah dengan orang tua); (2) Kurikulum (memiliki kurikulum tingkat satuan pendidikann (KTSP) yang mencerminkan kurikulum SKM, beban belajar dinyatakan dengan Satuan Kredit Semester (sks), mata pelajaran yang harus diikuti oleh peserta didik tediri dari tiga kelompok yaitu wajib (mata pelajaran pokok) dan pilihan (paket dan bebas); (3) Ketersediaan Panduan Pelaksanaan yang meliputi, memiliki pedoman pembelajaran, memiliki pedoman pemilihan mata pelajaran sesuai dengan potensi dan minat, memiliki panduan menjajagi potensi peserta didik, memiliki pedoman penilaian: (4) Kesiapan sekolah, meliputi sekolah menyatakan ingin melaksanakan SKS, persentase guru yang ingin melaksanakan SKS 90 %, pernyataan staf administratif akademik bersedia melaksanakan SKS, kemampuan staf administrasi akademik dalam menggunakan komputer ; (5) Kesiapan Sumber Daya Manusia, meliputi persentasi guru memenuhi kualifikasi akademik 75 %, relevansi guru setiap mata pelajaran dengan latar belakang pendidikan (90 %), rasio guru dengan siswa 1:20, jumlah tenaga administrasi akademik sesuai ketentuan, guru bimbingan konseling/karir ; (6) Ketersediaan fasilitas, meliputi ruang kepala sekolah, ruang wakil kepala sekolah, ruang guru, ruang bimbingan, ruang unit kesehatan, tempat olah raga, tempat ibadah, lapangan bermain, komputer untuk administrasi, memiliki laboratorium bahasa, TIK, MIPA,IPS, perpustakaan memiliki koleksi buku setiap mata pelajaran dan dikelola, layanan bimbingan karir.

b. Dukungan Eksternal, meliputi dukungan dari komite sekolah, persentase orang tua yang menyatakan bersedia putranya mengikuti pembelajaran dengan SKS 60 %, dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota secara tertulis (kebijakan dan fasilitas/pembiayaan), dukungan tenaga pendamping/nara sumber dalam keseluruhan proses pengembangan dan pelaksanaan SKM.

c. Kriteria (pelevelan) sekolah

Landasan implementasi SMA rintisan katagori mandiri sebenarnya merupakan kebijakan yang harus didasarkan pada ketetapan BSNP. Sambil menunggu kebijakan dari BSNP untuk sementara ditetapkan pelevelannya sbb:

1) SMA katagori standar I = x 30 %

2) SMA katagori standar II = 30 % < x 50 %

3) SMA katagori standar III = 50 % < x 75 %

4) SMA katagori mandiri I = 75 % < x 100 % (hampir memenuhi SNP)

5) SMA katagori mandiri II 100 % (memenuhi/melampaui SNP)

Dimana x adalah SNP (8 standar)

3. Sistem Kredit Semester (SKS)

Sesuai dengan PP No 19 tahun 2005, pasal 11 ayat (3) menyatakan bahwa beban belajar untuk SMA dan bentuk lain yang sederajat pada jalur pendidikan formal katagori mandiri dinyatakan dalam SKS. Ketentuan tersebut mengisyaratkan bahwa SKM harus menerapkan SKS. Untuk mendeskripsikan lebih rinci tentang SKS di SMA, akan diuraikan hal sbb:

a. Dasar pikiran.

1) Penerapan sistem kredit semester didasarkan oleh kenyataan bahwa kecepatan belajar seseorang (siswa) adalah tidak sama disebabkan oleh potensial abiliti mereka tidak sama sehingga potensi belajar mereka tidak sama juga. Di samping itu minatnya terhadap mata pelajaran pun tidak sama, sehingga kesuksesan siswa dalam menempuh studi akan sangat besar dipengaruhi oleh hal tersebut.

2) Dalam kaitan dengan itu, ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan beban studi seorang siswa dalam satu semester, yaitu rata-rata kerja sehari dan kemampuan individu. Pada umumnya orang bekerja rata-rata 6-8 jam sehari selama 6 hari berturut-turut. Apabila seorang siswa bekerja normal rata-rata 6-8 jam pada siang hari dan 2 jam pada malam hari selama 6 hari berturut-turut, maka seorang siswa diperkirakan memiliki waktu belajar sebanyak 8-10 jam sehari atau selama 48-60 jam seminggu. Karena nilai satu kredit semester setara dengan 3 jam kerja, maka beban studi siswa untuk setiap semester (rata-rata) akan bergerak antara 19-20 sks.

b. Pengertian

Sistem semester adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan dengan menggunakan satuan waktu terkecil yang disebut semester. Semester merupakan satu kesatuan waktu yang lamanya setara dengan 16-19 minggu kerja, sudah termasuk persiapan ujian (minggu tenang) dan masa ujian.

Program semester adalah program penyelenggaraan pendidikan secara bulat untuk setiap mata pelajaran pada semester tersebut. Penyelenggaraan pendidikan dalam satu semester terdiri atas kegiatan teori, praktikum dan kerja lapangan, baik dalam bentuk tatap muka, belajar terstruktur dan kerja mandiri. Dalam satu semester ditawarkan sejumlah mata pelajaran dengan bobot sks yang bervariasi, sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Pengertian SKS adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang merangkum beban studi siswa, beban kerja guru, dan beban lembaga penyelenggaraan pendidikan yang dinyatakan dalam satuan kridet semester (sks) Dalam kaitan dengan ini, satuan kredit semester menurut standar isi (SI) adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Jadi SKS melambangkan sistem kredit yang berlaku, sedangkan sks melambangkan satuan kredit yang merupakan bobot kredit masing-masing mata pelajaran.

c. Tujuan

Tujuan umum Sistem Kredit Semester (SKS) adalah agar Satuan Tingkat Pendidikan (SMA/sederajat) dapat lebih memenuhi tuntutan pembangunan, karena di dalamnya dimungkinkan penyajian program pendidikan yang bervariasi dan fleksibel sehingga memberi kemungkinan lebih luas kepada siswa (peserta didik) untuk memilih sesuai dengan potensi dan minatnya.

4. Implementasi sistem kredit semester di SMA

a. Kurikulum dan Sistem Kredit Semester

1) Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ada pada SI disusun menjadi satuan kredit semester (sks), menjadi 120 sks, yang terdistribusi dalam berbagai mata pelajaran yaitu : (a) mata pelajaran wajib/pokok yang harus diambil oleh seluruh peserta didik; (b) pilihan paket, sebagai dasar untuk mendukung bidang kemampuan yang akan dipilih di Perguruan Tinggi, (c) pilihan bebas, sesuai dengan bakat dan minat peserta didik, (d) kelompok MP Pilihan Paket, meliputi berbagai bidang kemampuan yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan ke pendidikan lebih lanjut, yang meliputi : Program akademik (teknik, Ilmu Kesehatan, Sains, Ekonomi, Ilmu Sosial, Bahasa, Hukum dan sebagainya, dan program profesional seperti politeknik).

2) Beban belajar peserta didik dinyatakan dengan sks yaitu 16-27 sks per-semester, dimana kecepatan belajar normal rata-rata 20 sks per-semester.

3) Bobot satu sks dapat dirinci sebagai berikut


Bentuk Kegiatan

Tatap Muka (menit)

Terstruktur + Mandiri (menit)

sks

Teori

Praktikum

1 x 45

2-3 x 45

1 x 25

2-3 x 25

1

1

Catatan :

(a) Mata pelajaran pilihan ditawarkan mulai semester 3

(b)     Tatap muka adalah kegiatan terjadual per-minggu dengan pendidik (guru) di dalam kelas atau di laboratorium

(c) Kegiatan terstruktur adalah kegiatan studi yang tidak terjadual, tetapi direncanakan oleh guru dan dilakukan oleh siswa berupa pekerjaan rumah (take home), latihan soal, konsultasi, penyelesaian proyek dan sejenisnya

(d) Kegiatan mandiri adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara mandiri untuk mendalami atau menyiapkan satu tugas akademik (bisa seperti butir c), atau membaca buku acuan dan sejenisnya.

4) Beban mengajar : (a) semester 1 dan 2 diprogram secara paket masing-masing sebanyak 20 sks, (b) semester 3 dan seterusnya pengambilan beban studi berdasarkan IP (Indeks Prestasi) semester sebelumnya (ganjil-ganjil; genap-genap). Pengambilan sementer 3 didasarkan IP semester 1 dan pengambilan beban studi semester 4 didasarkan IP semester 2, dan begitu seterusnya. Rentangan pengambilan beban studi antara 16 sks s/d 28 sks per-semester. Sebagai ancer-ancer dapat digunakan kriteria sbb:


5) Pembelajaran : (a) pelaksanaan pembelajaran menerapkan pendekatan tatap muka, kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Oleh karena itu peserta didik didorong untuk dapat belajar secara mandiri, (b) menerapkan pengelolaan pembelajaran dengan sistem pindah ruang kelas (moving class), sehingga diperlukan kelas mata pelajaran, (c) guru menyediakan jadual untuk konsultasi mata pelajaran, (d) jadual pemanfaatan laboratorium untuk kegiatan di luar jadual rutin, (e) pemanfaatan perpustakaan, (f) penasehat akademik (PA) mendeteksi potensi siswa (bisa dengan tes bakat, prestasi siswa, dsb), (g) ada program remidi sepanjang semester (sangat baik didukung dengan fasilitas modul/referensi), (h) menerapkan pembelajaran berbasis TIK.

6) Penilaian, dilaksanakan dalam : (a) bentuk tugas-tugas dan asesmen otentik lainnya (penilaian proses), ujian tengah semester (midsemester), ujian akhir semester, (b) penilaian menggunakan Acuan kriteria/patokan (PAP) dengan katagori A, B, C, dan D (dalam skala 4), (c) lulus minimum mencapai nilai C, dan (d) syarat lulus dari sekolah dengan IP minimum 2,0. Alternatif PAP adalah sbb:

Tingkat Penguasaan (%)

Nilai

Katagori

Tingkat Penguasaan (%)

Nilai

Katagori

90 – 100

4

A

90 – 100

4

A

75 – 89

3

B

75 – 89

3

B

55 – 75

2

C

65 – 74

2

C

54

1

D

64

1

D

7) Administrasi akademik, pada hakekatnya adalah merupakan registrasi siswa yang berupa pelayanan pada siswa dalam rangka status formal mereka (terdaftar sebagai siswa di sekolah) baik dalam kaitan dengan kepentingan data akademik maupun data pribadi siswa. Untuk itu masing-masing siswa harus memiliki folder yang menyimpan data individual siswa seperti : (a) kartu rencana studi (KRS), (b) kartu hasil studi (KHS), dan (c) data pribadi lainnya (seperti data Inteligensi, TPA, Bakat siswa). Dua hal pertama butir a, b, disimpan 1 eks oleh siswa, 1 eks oleh PA dan 1 eks oleh Pusat administrasi akademik sekolah (dan bila mungkin disimpan di PUSKOM). Untuk data butir c disamping disimpan oleh siswa sendiri, sebaiknya teradministrasi secara bagus di Unit Layanan Bimbingan Konseling.

5. Sistem Bimbingan Akademik

  1. Pengantar

Standar Kelulusan pada satuan pendidikan menengah umum (SMA) bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri serta mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dalam rangka mengimplementasikan tujuan tersebut dalam proses transformasi pembelajaran banyak kendala yang ditemukan. Salah satu dampak tidak langsungnya adalah sukses dan tidak suksesnya seorang siswa menyelesaikan studinya. Ketuntasan penyelesaian studi siswa salah satu merupakan tujuan utama yang harus diprioritaskan oleh siswa itu sendiri dan juga oleh tingkat satuan pendidikan terkait.

Guru merupakan salah satu unsur (faktor) penggerak dalam instrumental input. Guru juga memegang posisi yang sangat strategis dalam proses transformasi. Guru secara tidak langsung memiliki kewajiban untuk mengantarkan kesusksesan studi siswa. Untuk itu secara terorganisir oleh lembaga, guru dibutuhkan (diwajibkan) untuk memberikan bimbingan pada siswa. Dalam kaitan dengan itulah guru sangat dibutuhkan berperan sebagai guru penasehat akademik (PA) untuk bisa secara intens memberikan bibingan akademik pada siswa.

Dengan demikian bimbingan akademik adalah bimbingan yang diberikan oleh Penasehat Akademik (PA) kepada siswa dalam bidang akademik selama mengikuti studi. Sehingga tujuan bimbingan akademik oleh PA antara lain adalah memberikan bantuan dan nasehat kepada siswa bimbingannya (SB) dalam menyusun program studinya dan memberikan pengawasan secara terus menerus demi kelancaran studi SB.

  1. Tugas, tanggung jawab Guru PA dan Kriteria Personal

Kehidupan adalah merupakan proses adaptabilitas baik pada lingkungan, norma maupun permasalahan yang dihadapi. Masalah hampir-hampir melekat pada kehidupan manusia. Begitu pula kehidupan siswa, dia mengalami perubahan kehidupan baik yang bersifat fisik maupun yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Kehidupan akademiknya pun tidak terlepas dari goncangan. Faktor-faktor psikologis dan sosial sangat mempengaruhi kehidupan akademiknya. Siswa tingkat yang lebih tinggipun tidak luput dari permasalahan akademik maupun pribadi. Untuk itu sangat diperlukan peran guru PA untuk dapat membantu para siswa memecahkan masalah yang ia hadapi. Secara umum tugas PA sebenarnya adalah menandai siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, memediasi, memberikan informasi dan bimbingan dalam bidang akademik dan non-akademik yang terkait. Dengan demikian secara lebih rinci dapat dirumuskan tugas guru PA sebagai berikut : (1) memberi penjelasan dan petunjuk kepada siswa tentang rencana studinya, (2) memberi bimbingan dan nasehat kepada siswa tentang cara-cara belajar yang baik dalam menyelesaikan studi, (3) memberikan nasehat pada siswa dalam pemilihan mata pelajaran sesuai dengan jurusan, kemampuan, (4) meneliti sebab-sebab ketidaksuksesan siswa dalam menempuh studi, (5) mencari, menyusun dan menyimpan secara rahasia data SB, (6) memberi laporan dan rekomendasi tentang SB nya (bila diperlukan), (7) memantau, memberikan bimbingan secara kontinyu, dan bila perlu memberi peringatan kepada siswa yang berprestasi rendah. Bila diperlukan dilakukan reveral pada unit yang relevan, (8) menyediakan waktu yang cukup pada siswa untuk berkonsultasi.

Bila dikaji hal di atas, tugas guru PA sangat berkaitan dengan kemampuan menjalin hubungan dengan siswa, sehingga diharapkan guru PA memiliki kemampuan untuk itu, sehingga siswa merasa nyaman untuk melakukan konsultasi dengan guru PA. Prinsip komunikasi yang dijalin oleh guru PA agar berorientasi pada prinsip komunikasi : I am ok, you are ok (jangan sampai terjadi I am ok, you are not ok ).

Sebagai bahan pertimbangan kriteria guru PA dapat merujuk pada : (1) kriteria formal ; seperti guru tetap di tingkat satuan pendidikan bersangkutan, masa kerja minimal 2 tahun, (2) kriteria Personal ; seperti : memiliki komitmen yang tinggi, integritas, terbuka menerima pendapat luar, empati dan sensitif terhadap keadaan orang lain, memiliki daya observasi yang tajam, dan mampu mengidentifikasi kendala-kendala psikologis, sosial dan kultural.

  1. Meningkatkan Interaksi Guru PA – Siswa

Membimbing siswa untuk dapat mengenali masalahnya dan mampu melakukan pemecahannya tentu memerlukan keterampilan tersendiri bagi guru. Banyak kemampuan yang berperan untuk itu, beberapa hal yang simpel yang perlu dikuasai adalah sbb :

1) Kemampuan menjalin komunikasi, komunikasi inter/antar-personal yang didasarkan pada prinsip I am ok, you are ok. Bertolak dari pandangan bahwa dalam diri manusia ada tiga ego, yaitu ego anak-anak (A), ego dewasa (D), dan ego orang tua (O). Maka interaksi personal diharapkan terjadi saling melengkapi dan bila mungkin membentuk garis-garis sejajar.


  1. Memiliki kemampuan mengidentifikasi/ mengenali faktor-faktor yang

mempengaruhi keberhasilan studi siswa.

d.
Strategi Umum Bimbingan Siswa

1) Sasaran bimbingan adalah semua siswa dari semester 1-akhir

2) Tujuan bimbingan dimaksudkan untuk mendeteksi dini masalah studi/ kesulitan

belajar siswa.

3) Arah bimbingan adalah untuk mengembangkan keterampilan umum dalam belajar.

4) Mengembangkan suasana yang lebih kondusif dalam hubungan guru siswa agar

bimbingan lebih efektif.

5) Perlunya memperbaiki persepsi siswa terhadap keefektifan bimbingan.

6) Adakan deteksi dini masalah studi siswa dengan cara; manfaatkan Tes Bakat,

Minat siswa dsb, angket/inventori kesulitan belajar, dan lakukan tindak lanjut.

7) Kembangkan keterampilan belajar siswa seperti : penyusunan rencana studi, penyusunan rencana belajar sendiri, penggunaan waktu belajar dan waktu lowong, cara belajar efektif.

e. Alur Pembimbingan

Download Tulisan

Posted on September 30, 2009, in Tulisan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: